Threesome, Fantasi Seks Ternikmat yang Berpotensi Membawa Malapetaka

Mengapa hanya satu kalau bisa dua? Mungkin pertanyaan itu yang terbesit dalam pikiran orang-orang yang menjalani hubungan seksual threesome. Sebagai aktifitas seksual yang menjadi kategori khusus dalam industri porno, threesome terbukti populer dan menjadi salah satu kategori yang paling banyak dicari oleh perempuan maupun laki-laki.

Menurut temuan yang dipublikasikan oleh Journal of Sex Research, khalayak laki-laki dan perempuan memiliki dua kategori favorit yang sama. Keduanya adalah threesome dan seks oral. Threesome bahkan disebut sebagai fantasi tertinggi yang paling diidamkan dalam kehidupan nyata oleh para partisipan survey di jurnal tersebut. Sayangnya fantasi kadang tidak seindah kenyataannya. Dalam dunia nyata, aktifitas threesome justru memiliki masalah dan kompleksitasnya sendiri.

Membawa Masalah Baru dalam Hubungan, Memperparah Masalah Citra Diri

Fantasi untuk melakukan Threesome terbukti nyata adanya bagi seseorang maupun sepasang sejoli. Aktifitas seksual bertiga atau threesome, bahkan sudah menjadi kegiatan yang kerap dilakukan oleh pasangan suami istri sebagai bumbu baru di atas ranjang. Namun, tidak selamanya bumbu peningkat gairah menjadi satu-satunya alasan pasutri untuk melakukan threesome.

Lihat saja kelakuan AA, warga Magetan berumur 30. Ia tertangkap polisi setelah menjual jasa threesome dengan istrinya di Twitter. Banyak yang beranggapan threesome hanya dilakukan oleh warga kelas menengah atas yang mampu membeli dua pelacur sekaligus. Berbanding terbalik dengan anggapan tersebut, AA justru merupakan seorang kuli bangunan dan pekerja serabutan.

AA menjual jasa threesome karena membutuhkan uang untuk biaya persalinan istrinya. Selain itu, ternyata AA dan istrinya juga sama-sama memiliki fantasi untuk melakukan aktifitas tersebut. “Saya kepingin, istri juga, sama-sama kepingin,” ujar AA kepada para petugas Polda Jatim.

Hal yang sama juga terjadi di kasus DTS, seorang tukang bakso dari Kediri. DTS yang baru berusia 20, menjual istrinya yang masih berusia 16, untuk jasa threesome kepada anggota grup facebook “Pasutri Bahagia”. Setelah tertangkap oleh kepolisian, DTS mengaku sudah menjalani kerja lepas penuh berahi tersebut setidaknya sebanyak tiga kali tiga transaksi.

Atau anda mungkin ingat dengan kasus threesome viral yang berasal dari Garut. Pasangan berinisial V dan A, tertangkap polisi setelah video threesome dan seks ramai (gangbang) yang mereka lakukan viral di media sosial. V mengaku, Ia melakukan hal tersebut karena paksaan sang suami. Sedangkan A mengaku, Ia sengaja merekam dan memasarkan video threesome tersebut karena motif ekonomi.

Meskipun A mengklaim itu semua demi motif ekonomi, tetapi hal ini juga disanggah oleh pernyataan V. Menurut V, justru Ia hanya menerima 500ribu rupiah ketika melakukan threesome dengan pelanggan.

Sedangkan Ia tidak tahu berapa uang yang didapatkan oleh A. V juga menambahkan, bahwa A memiliki orientasi biseksual sehingga A bisa menikmati aktifitas seksual dengan istrinya maupun dengan laki-laki di video viral tersebut.

Tiga kasus ini memperlihatkan bagaimana nyatanya fantasi seksual threesome bahkan dalam kehidupan nyata di Indonesia. Fantasi ini juga menjangkit seluruh manusia dewasa, tidak pandang kelas sosial maupun orientasi seksualnya.

Namun, hubungan threesome yang dilakukan pasutri tidak melulu berujung penjara seperti yang terjadi dalam tiga kasus tadi. Masalah yang lebih umum dari aktifitas threesome pasutri justru adalah terciptanya keretakan dalam rumah tangga.

Menurut jurnalis, Ossiana Tepfenhart, ada masalah-masalah pasutri yang perlu diingat sebelum memutuskan untuk melakukan threesome. “Ada sejumlah pasangan yang tidak seharusnya melakukan ini ketika sudah menikah,” tulis Ossiana.

Salah satu masalah terbesar adalah masalah kecemburuan yang mungkin timbul setelah aktifitas threesome dilakukan. “Seringkali kecemburuan terjadi karena kedua pasangan belum menyepakati detil-detil penting seperti batasan maupun penyelesaiannya,” jelas Ossiana.

Masalah ini disepakati dan dijelaskan lebih lanjut oleh ahli seks, Tracey Cox. “Mungkin mudah membayangkannya, tapi Anda tidak benar-benar siap mengantisipasi perasaan melihat orang lain mencium atau mencumbu pasangan Anda sendiri,” jelas Tracey.

Lebih jauh lagi, Tracey mengatakan bahwa aktifitas threesome justru lebih banyak menciptakan kecanggungan di atas ranjang. Pasangan yang belum berpengalaman akan sampai pada momen canggung di mana mereka harus menentukan siapa yang harus memulai lebih dulu.

Ketika dalam percumbuan, kecanggungan semacam ini seringkali masih berlanjut. “Pasalnya, kebanyakan dari kita membayangkan kalau kita akan jadi pihak yang santai menerima kenikmatan dari pihak lain. Padahal, pihak lain juga mengharapkan hal yang sama,” lanjut Tracey.

Terlebih, jika threesome dilakukan oleh satu laki-laki. “Seringkali laki-laki tertekan ketika diharapkan untuk memuaskan dua perempuan, mungkin saja sampai tidak bisa ereksi karena stress,” lanjut Tracey.

Kecanggungan dan tekanan juga bisa menimpa pihak perempuan. Apabila pemainnya adalah satu perempuan dan dua laki-laki, terdapat kasus umum di mana kedua laki-laki tanpa diduga juga saling bercumbu. “Di fantasi kita, mereka hanya akan fokus memuaskan kita, nyatanya aktifitas sesama jenis yang tiba-tiba terjadi sangat umum dalam threesome,” ujar Tracey.

Kecemburuan di antara pasangan juga terjadi ketika satu pihak merasa tidak dilibatkan. Hal ini terjadi karena seringkali di atas ranjang ada dua pihak yang jadi asik sendiri. “Ketika ini terjadi, kita akan berpikir apakah kita kurang memuaskan? atau apakah dia lebih memuaskan?” jelas Tracey. Kekhawatiran tadi seringkali terbawa bahkan hingga aktifitas threesome selesai.

Kecemburuan di luar ranjang bisa semakin parah apabila threesome dilakukan dengan pihak yang dekat secara pribadi dengan kedua pasangan. Pihak ketiga akan menjadi momok bagi pasangan yang cemburu atau bahkan menjadi fantasi yang berlanjut bagi pasangan yang terpuaskan. Menurut Tracey, dalam beberapa kasus justru salah satu pasangan bisa jatuh cinta oleh si pihak ketiga setelah melakukan threesome.

Selain menghadirkan masalah bagi pasangan suami istri, threesome juga bisa membawa masalah baru bagi mereka yang menjalaninya ketika lajang.

Masalah utama dari individu yang lajang adalah citra diri. Jika seseorang tidak percaya diri dengan seksualitas maupun penampilannya, maka tidak seharusnya ia melakukan threesome. Menurut Tracey, jika seseorang yang tidak percaya diri melakukan threesome kemungkinan besar ia akan semakin terpuruk setelah menjalaninya.

Hal ini bukan tanpa sebab, ketika seseorang yang tidak percaya diri melakukan threesome sebagai ajang pembuktian maka dapat dipastikan Ia akan memberi tekanan berlebihan pada dua pihak yang lain.

Selain itu, threesome juga dapat memperparah citra diri seseorang yang tidak percaya diri dengan tubuhnya karena akan merasa dihakimi oleh dua pihak. Maka dari itu Tracey menyarankan alangkah baiknya aktifitas ini dilakukan oleh seseorang yang sudah percaya diri.

Mempersiapkan Threesome

Tawarkan Layanan Prostitusi Threesome, Pasangan Ini Ditangkap Polisi

Masalah-masalah threesome tadi mungkin tidak mengurungkan niat Anda untuk memuaskan fantasi seksual yang sudah lama dipendam. Apabila hasrat untuk melakukan threesome sudah tidak tertahankan lagi, Anda mungkin mau mengetahui perencanaan yang tepat sebelum melakukannya. Hal pertama yang perlu diingat sebelum melakukan threesome adalah penentuan batasan.

Menurut pakar seks, Rebecca Dakin, penentuan batasan memang hal yang penting dalam threesome. Dakin menjelaskan bahwa batasan ini juga seharusnya berubah-ubah sesuai dengan evaluasi.

Misalnya, ketika dalam perjanjian awal kita mengizinkan pasangan untuk melakukan seks oral ke pihak ketiga, lalu ternyata kita tidak nyaman dengan itu, maka kita dapat diperkenankan untuk membatalkan perjanjian tadi.

Untuk meminimalisir kecanggungan dan memaksimalkan kenyamanan, Rebecca menyarankan semua pihak untuk menyepakati kata aman. Prinsip kata aman sendiri sebenarnya sudah banyak diterapkan dalam komunitas seks lain, seperti halnya yang diterapkan oleh pegiat sadisme dan masokisme. Kata aman ini penting dalam threesome karena dinamika seksual yang melibatkan tiga pihak sekaligus jauh lebih tidak terduga.

Rebecca juga menyarankan satu cara yang dapat digunakan sebagai pemanasan bagi para pemula. “Untuk permulaan, pasangan pemula bisa mulai dengan pergi ke klab bugil bersama. Di sana pasangan bisa memesan seorang penari untuk menghibur mereka berdua,” jelas Rebecca seperti dilansir Edisi Bonanza88 dari sejumlah sumber.

Apabila tahap pertama tidak memunculkan masalah bagi kedua belah pihak, maka mereka dapat berlanjut ke tahap kedua. “Selanjutnya masing-masing mendapat gilirannya sendiri untuk menikmati tarian bugil,” lanjut Rebecca.

Tahap ini dimaksudkan Rebecca sebagai ujian. Apabila memang tidak ada masalah yang timbul setelah tahap-tahap itu dilaksanakan, maka pasangan dapat melanjutkan untuk melakukan threesome dengan pihak ketiga yang mereka sepakati.

Tahapan tadi dapat membantu memastikan tidak ada kecemburuan yang akan hadir di antara kedua belah pihak. Melalui tahapan ini akan lebih mudah untuk mendeteksi sensitifitas kecemburuan suatu pihak.

Pakar seks yang lain, Denise, menyetujui pernyataan Rebecca. Denise menambahkan, penentuan batasan bisa jadi sejauh aktifitas seksual semacam apa yang diperbolehkan dilakukan dengan pihak ketika. Pasangan bisa menyepakati terlebih dahulu apakah penetrasi masih dalam batasan, atau apakah penetrasi diizinkan tetapi ciuman tidak diperbolehkan.

“Kalau pada akhirnya, baru ketahuan apa yang boleh dan tidak setelah di ranjang, semua pihak berhak menyatakan keberatan yang harus dihargai oleh semua,” ujar Denise.

Manfaat Threesome

One In Seven Americans Has Had A Threesome And One In Five Finds Them  Appealing

Dr Ryan Scoats, peneliti perilaku seksual dari Brimingham City University, menyatakan bahwa setelah bertahun-tahun melakukan penelitian Ia baru menyadari tidak ada yang istimewa dari threesome. “Itu (threesome) sangat mirip dengan seks berdua,” jelasnya. Menurut Ryan, seks threesome sama seperti seks biasa karena keduanya sama-sama memiliki alasan yang beragam, dan keduanya sama-sama punya dampak negatif maupun positif.

Hal ini yang membuat Ryan heran, entah mengapa seks threesome justru jarang diteliti. Menurut Ryan, threesome justru menarik untuk diteliti karena saat ini sedang terjadi pergeseran budaya yang besar. Kehadiran industri porno membuat batasan antara seks dan hubungan semakin kabur. Akibatnya norma-norma monogami juga mulai tergerus. “Ini yang membantu mewajarkan perilaku threesome saat ini,” jelas Ryan.

Penelitian Ryan mengemukakan bahwa anak muda jauh lebih bersedia untuk melakukan threesome dibandingkan orang dewasa. Dari penelitiannya ditemukan bahwa beberapa orang bahkan pernah melakukan threesome sejak berusia 15,16 dan 17 tahun. Temuan ini terutama lebih besar kecenderungannya bagi laki-laki. “Salah satu alasannya supaya bisa bilang ‘aku pernah threesome’,” ujar Ryan.

Meskipun demikian, Ryan juga menambahkan bahwa laki-laki lebih cenderung kecewa dengan pengalaman threesome mereka ketimbang perempuan.

Pada dasarnya threesome memang memiliki dampak negatif dan positif. “Bagi pasangan, threesome bisa juga mempererat hubungan selama dilakukan atas dasar kesepakatan yang rinci,” ujar Denise.

Selain kesepakatan yang rinci, Denise juga menambahkan bahwa threesome harus dilakukan oleh orang-orang yang benar-benar mengerti manfaat dan masalah yang mungkin timbul setelahnya. “Tapi perlu diingat, memang tidak semua pasangan bisa menikmati threesome,” ujar Denise.

Denise turut mengingatkan hal terpenting yang tidak boleh dilupakan ketika melakukan threesome adalah keamanan. “Yang paling penting tentu saja keamanan seksual yang benar-benar jelas,” ujar Denise.

Menurut pakar seks itu, bukan hanya kontrasepsi tetapi juga apakah threesome dilakukan secara sadar atau dalam kondisi mabuk. “Jika mabuk, lalu tiba-tiba Anda terbangun di ranjang dengan keadaan bugil bersama dua orang lain, lebih baik segera langsung cek kesehatan seksual Anda,” tegas Denise.