5 Agustus 1962 dini hari, telepon kantor polisi Brentwood, California, berdering nyaring. Panggilan itu ternyata datang dari kediaman bintang film yang paling dipuja banyak lelaki kala itu: Marilyn Monroe. Pembantu Marilyn yang bernama Eunice Murray melaporkan bahwa majikannya itu sudah tak bernyawa di dalam kamar tidur yang terkunci.

Sekitar pukul setengah lima pagi, petugas kepolisian tiba di lokasi. Marilyn ditemukan terkapar di atas tempat tidur dalam keadaan telanjang sambil meremas gagang telepon. Menurut laporan yang dilansir Edisi Bonanza88 dari New York Mirror, Marilyn disebut menegak 40 tablet obat tidur. Media cetak seantero Amerika beramai-ramai memberitakan bahwa salah satu bintang perempuan termahal di masanya itu telah bunuh diri di usia ke-36 tahun.

Dalam Marilyn Monroe: The Biography, biografer Donald Spoto menuliskan bahwa kematian Marilyn dipenuhi kejanggalan. Segera setelah menemukan jasad Marilyn, Murray tidak langsung menelepon polisi tetapi malah memanggil psikiater Monroe yang bernama Dr. Ralph Greenson. Spoto menduga ada persekongkolan di antara keduanya.

Kendati tidak terbukti membunuh majikannya, kesaksian Murray yang berubah-ubah tentang jam penemuan jasad Monroe melahirkan berbagai macam dugaan. Pada 1982, misteri kematian Marilyn naik tingkat dari kasus bunuh diri menjadi dugaan pembunuhan berencana yang melibatkan lingkaran keluarga Kennedy.

“Kelemahan versi resmi [kematian Marilyn Monroe] memengaruhi banyak hasil, tak terkecuali di antaranya serangkaian teori konspirasi yang fantastis, penemuan plot jahat, pembunuhan yang diilhami pemerintah, dan sebagainya,” tulis Spoto.

Daya tarik seputar misteri kematian Marilyn seolah tak ada habisnya. Selang 57 tahun setelah kematiannya, perjalanan hidup simbol seks Hollywood ini masih saja menarik perhatian khalayak. Artikel seputar hidupnya yang keras, kegagalan kisah asmara, hingga konspirasi kematiannya ibarat sumur tak berdasar yang selalu mengundang tanda tanya.

Tidak hanya dipuja lewat foto-fotonya yang cenderung seksi dan kekanakan, Monroe juga berhasil menghipnotis para penulis untuk beramai-ramai menelurkan karya biografi tentang dirinya. Menurut catatan Newsweek, hanya berselang 24 tahun setelah kematiannya, setidaknya sudah ada lebih dari 40 buku yang didedikasikan untuk mengulik tragedi kematian seraya memuja kemolekan seorang Marilyn. Sebagian besar buku itu ditulis oleh laki-laki.

Musuh Kaum Hawa

Video Seks Marylin Monroe Dilelang

Sepanjang kariernya sebagai aktris, Marilyn terkenal dengan peran-perannya sebagai gadis lugu berambut pirang yang dungu atau biasa disebut dumb blonde. Film-filmnya seperti Gentlemen Prefer Blondes (1953), Seven Years of Itch (1955), The Prince and the Showgirl (1957), Some Like It Hot (1959) berhasil melambungkan sosok Monroe yang seksi dan digilai kaum adam.

Selain itu, Marilyn juga tidak takut berfoto seksi. Sebelum menjajal peruntungan di bidang akting pada 1947, dia memang pernah berprofesi sebagai model. Pada 1949, lantaran tak punya uang untuk makan, dia bahkan bersedia berpose tanpa busana untuk kebutuhan foto kalender.

Dalam autobiografinya, Marilyn mengakui bahwa kehidupannya sebelum menjadi aktris sangatlah sulit. Marilyn dan bibinya, Grace, sering mengantre selama berjam-jam hanya agar bisa mendapatkan sekantong roti sisa seharga 25 sen.

Beberapa tahun kemudian, foto telanjang Marilyn naik ke permukaan. Aksi tersebut dinilai telah mencoreng nama baik agensi tempatnya bernaung. Mereka memaksa Marilyn untuk menyangkal bahwa perempuan dalam foto tersebut adalah dirinya. Namun, Marilyn menolaknya karena ia tidak merasa malu atau pun bersalah.

“Aku pernah muncul dalam sebuah gambar kalender. Aku ingin ketika seorang laki-laki pulang ke rumah setelah bekerja keras seharian, melihat gambar ini dan berkata ‘wow’,” katanya blak-blakan, seperti dikutip oleh Spoto dalam biografi Marilyn (hlm. 213).

Berkat sikapnya yang menjunjung sensualitas, Marilyn sering menjadi bulan-bulanan kaum perempuan. Seperti yang diungkapkan sendiri dalam autobiografinya yang tidak sempat terbit, “Sejak berusia 14 tahun, aku punya bakat untuk membuat para perempuan merasa kesal.”

“Terkadang aku pergi ke pesta di mana tidak ada seorang pun yang mengajakku bicara sepanjang malam. Para perempuan akan bergerombol di pojok ruangan membicarakan watakku yang berbahaya. Mereka takut suami atau kekasih mereka akan memberikanku tempat di atas ranjang mereka,” lanjutnya.

Menurut Donald Spoto, kendati dibenci perempuan, sensasi Marilyn Monroe berhasil mengantarkannya ke tampuk tertinggi perfilman Amerika. Sejak 1952, dalam seminggu Monroe bisa menerima sekitar lima ribu pucuk “surat cinta” dari penggemar laki-laki dari penjuru Amerika.

Simbol Kebangkitan Seksualitas

Marilyn Monroe: The ultimate sex symbol for men. But did she only love  women? | Daily Mail Online

Tidak semua perempuan menganggap Marilyn sebagai musuh alami. Satu dari tiga biografi Marilyn Monroe yang terbit berurutan pada tahun 1986 ternyata ditulis oleh seorang perempuan. Dia adalah Gloria Steinem, jurnalis sekaligus tokoh pergerakan feminisme Amerika pada periode 1960-an dan 1970-an.

Dalam karyanya itu, Steinem berhasil membuka selubung dalam kehidupan Marilyn yang sering luput dari perhatian orang, terutama para laki-laki. Dalam bukunya yang berjudul Marilyn: Norma Jeane, Steinem berusaha melihat sosok Marilyn dari kacamata perempuan menggunakan pendekatan feminisme kontemporer.

Sebagai seorang perempuan, Steinem sendiri mengakui bahwa dirinya pernah sangat membenci Marilyn. Pada 1953, Steinem sempat uring-uringan di dalam bioskop saat menonton Gentlemen Prefer Blondes yang dibintangi Marilyn Monroe dan Jane Russell. Steinem lantas memilih angkat kaki dari bioskop karena mengganggap perilaku tokoh Lorelei Lee yang dimainkan Marilyn sangat memalukan kaum perempuan.

Tiga puluh tahun kemudian, Steinem menyesali perbuatannya itu dan mulai mencari tahu tentang Marilyn. Lama kelamaan Steinem mengakui posisi Marilyn sebagai korban kebuasan Hollywood. Steinem mengingatkan agar efek sosial yang ditimbulkan oleh perilaku sensual Marilyn dalam industri perfilman yang didominasi laki-laki sepatutnya mulai menjadi perhatian perempuan.

Dalam bukunya, Steinem menuliskan sosok Marilyn sebagai perempuan kesepian yang terjebak dalam keriuhan kehidupan glamor California. Norma Jeane (nama asli Monroe) terpaksa mengurung diri dalam balutan sosok bahenol bernama Marilyn Monroe untuk mencari cinta dan pengakuan yang tidak pernah didapatnya semasa kanak-kanak.

“Aku menyadari bahwa aku menjadi milik publik dan dunia, bukan karena aku berbakat atau pun cantik tetapi karena aku belum pernah menjadi bagian dari apa pun atau siapa pun,” kata Monroe dalam autobiografinya, dikutip oleh Steinem.

Sebelum Steinem mengemukakan argumennya pada 1986, jurnalis perempuan lain sebenarnya sudah pernah membuat ulasan tentang Monroe dari sudut pandang perempuan. Margaret Parton, satu dari sedikit jurnalis wanita yang meliput Marilyn selama hidupnya berusaha menunjukkan sisi lain sang bintang melalui sebuah laporan dalam majalah Ladies Home Journal.

Akan tetapi, menurut Steineim, artikel Parton tersebut ditolak mentah-mentah oleh editor lantaran terlalu memihak sisi malaikat Monroe. “Penolakan terhadap artikel sensitif seperti ini adalah bukti bahwa para editor majalah perempuan hanya tertarik menggambarkan Monroe, pada tahun-tahun itu, sebagai perusak rumah tangga yang gila,” tulis Steineim.

Dalam tulisannya, Steinem juga menunjukan bahwa kisah pelecehan seksual yang pernah dialami Marilyn semasa kecil tidak pernah dianggap serius oleh para penulis biografinya yang sebagian besar adalah laki-laki. Percobaan untuk mengulik permasalahan ini baru dilakukan sekitar tahun 1972 oleh redaktur majalah Ms., Harriet Lyons.

Sepeninggalnya Monroe pada 1962, satu dari beberapa perempuan yang mau menulis obituari Marilyn Monroe dengan penuh empati adalah Diana Trilling. Berdasarkan catatan Steineim, Trilling tidak takut diremehkan saat mengatakan ketergantungan Marilyn terhadap daya tarik seksual bertujuan untuk mengisi ruang hampa dalam dirinya. Trilling juga menyayangkan, hal tersebut justru malah membuat Marilyn tidak memiliki banyak kawan perempuan.

Kematian Marilyn Monroe telah mendorong para perempuan untuk memperdebatkan kembali sikap terhadap seksualitas. Para perempuan Amerika mulai blak-blakan mendiskusikan masalah ini di muka publik sembari menjuluki Marilyn sebagai simbol kebangkitan seksualitas.

Jadi Bomb Sex Panggung Hollywood

Fans Marilyn Monroe

Penampilan Marilyn Monroe–mulai dari rambut hingga pakaian–juga banyak diikuti selebritas ternama, seperti Paris Hilton hingga Scarlett Johansson. Marilyn Monroe dianggap sebagai wanita tercantik di seluruh dunia hingga saat ini.

Selain itu, Marilyn Monroe punya titel yang tak pernah hilang yaitu Bomb Sex di Hollywood. Namun tak banyak yang mengetahui kisah hidup Marilyn Monroe yang tragis sebagai artis.

Dalam buku berjudul Marilyn in Manhattan: Her Year of Joy, mengungkapkan penderitaan Marilyn Monroe selama hidup di Hollywood. Ungkapan tak semua yang bersinar itu emas memang benar adanya, diwartakan The New York Post. Marilyn Monroe yang hidup dengan kekayaan melimpah dan berada di puncak popularitas, merasa tidak bahagia.

Kisah Hidup Marilyn Monroe Terungkap Lewat Buku

Di buku itu terungkap, Marilyn Monroe sempat berada di tidik nadir karena perannya sebagai wanita pirang yang bodoh. Pada usia 28 tahun, Marilyn Monroe menjadi artis yang dibayar rendah dan kerap kali dihina.

Marilyn Monroe sering bermain dalam film-film yang menampilkan kebodohannya. Sejak muncul di karya yang dianggap picisan itu, Marilyn Monroe mendapatkan sebutan sebagai wanita yang tak berkelas hingga Pekerja Seks Komersial (PSK).

Sebenarnya, Marilyn Monroe ingin menunjukkan kerja kerasanya sebagai seorang aktris. Sayangnya, imej dirinya sebagai wanita bodoh telah terlalu melekat.

Buktinya, Marilyn Monroe bekerja dengan sangat keras di setiap karya yang dibintanginya. Salah satunya, mencoba adegan beberapa kali untuk menghasilkan gambar yang sempurna.

Namun Marilyn Monroe tetap saja menjadi bahan ejekan. Marilyn Monroe sempat merasa tertekan. Dia bahkan sampai harus mengonsumsi obat tidur untuk membuatnya tenang dan tidur nyenyak.

Pada 1954, Marilyn Monroe sempat melarikan diri ke New York, Amerika Serikat, dengan menyamar menjadi orang lain. Dia memakai rambut palsu agar tak dikenali.

Selama 14 bulan, Marilyn Monroe tinggal di New York, rajin berolahraga di Central Park. Dia berkencan dengan banyak pria. Namun pada malam hari, dia jatuh ke pelukan cinta sejatinya, Joe DiMaggio.

Rupanya pria yang menemani perjalanan Marilyn Monroe di New York adalah fotografer ternama, Milton Greene. Akhirnya, sisi lain Marilyn Monroe pun terungkap, wanita rang rapuh.

Menurut Milton Greene, orang-orang banyak salah paham dengan peran yang dimainkan Marilyn Monroe. Milton Greene menyebut Marilyn Monroe sebagai aktris yang hebat, pantas berakting di film menganggumkan.

Marilyn Monroe dan Bung Karno

Di Balik Kisah Soekarno dengan Marilyn Monroe, CIA Datang Sebagai Orang  Ketiga | YuKepo.com

Pesona Soekarno memang hingga kini masih membara. Pesona seorang pemimpin karismatik yang banyak dipuja dan dipuji oleh setiap manusia, gak hanya perempuan namun juga laki-laki. Sepak terjangnya dalam kancah politik memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Salah satu penggagas KAA dan Gerakan Non-Blok ini seperti banyak diperebutkan oleh semua negara. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan perhatian dari Soekarno. Segitu hebatnya!

Tidak hanya di mata para elit politik dunia, Soekarno juga berhasil mencuri perhatian para wanita cantik baik dari dalam maupun luar negeri. Karismanya memang tidak bisa ditangkis begitu saja oleh para kaum hawa. Mulai dari Naoko Nemoto wanita sosialita Jepang yang kemudian berubah nama menjadi Ratna Dewi Soekarno sah menjadi istri ke-5 Soekarno pada tahun 1962.

Tidak hanya sukses menggaet salah satu sosialita Jepang, Soekarno pun dikabarkan menjalin kisah yang tidak biasa dengan salah satu aktris papan atas Hollywood. Siapa lagi kalau bukan Marilyn Monroe? Bagaimanakah kisah di antara mereka?

Hubungan antara Soekarno dengan Marilyn Monroe awalnya hanya sekedar saling mengagumi satu sama lain. Namun pada pertemuan pertamanya di tahun 1956, keduanya memiliki kesempatan untuk bertemu secara langsung. Pertemuan antara Soekarno dengan Marilyn Monroe sebenarnya tidak pernah diagendakan sebelumnya. Terlebih pada saat itu harusnya Monroe ada jadwal lain.

Namun karena Monroe diminta datang oleh Joshua Logan, sutradara di film Bus Stop yang ia bintangi, maka selebritis dunia ini mengiyakan. Padahal sebenarnya Monroe juga penasaran dengan sosok Soekarno yang flamboyan tersebut.

Pesta tersebut memang diadakan sebagai pesta penyambutan Soekarno. Sudah pasti tamu-tamu yang datang merupakan orang besar dan berpengaruh di Amerika Serikat pada saat itu. Pesta yang cukup mewah dan meriah tersebut semakin pecah karena ada kehadiran sang bintang seksi.

Karena saling mengagumi, Soekarno dan Monroe tak canggung untuk berbincang akrab. Sekitar 45 menit mereka berbincang, mereka berpisah setelah sebelumnya sempat berfoto. Pertemuan ini menjadi begitu berkesan bagi Soekarno dan Monroe. Tampak dari wajah mereka yang sumringah seperti remaja sedang jatuh cinta.

Seperti yang tertulis di dalam buku “Goddess The Secret Life of Marilyn Monroe” karya Anthony Summers, antara Soekarno dengan Marilyn Monroe memang terjalin sebuah hubungan khusus dan membuat hubungan mereka berdua semakin intim. Dalam buku yang sama Joseph Smith, mantan pejabat CIA di Asia mengungkapkan bahwa di tahun 1958 memang ada rencana untuk membawa mereka berdua ke ranjang.

Sedangkan dalam buku “Celebrity Secrets: Official Government Files on the Rich and Famous” mengungkapkan adanya indikasi keterlibatan CIA melalui segala bentuk kejahatan untuk menggulingkan Soekarno yang menurut Amerika Serikat mulai mengarahkan Indonesia pada arah komunis.

Karena itu, pemerintah Amerika Serikat perlu menjebak Soekarno dengan menggunakan Marilyn Monroe sebagai jebakan melalui seks. Tidak hanya itu, beberapa sumber ternama di Amerika Serikat lainnya, CIA sengaja merekrut Marilyn Monroe sebagai salah satu cara menaklukkan Soekarno.

Pertemuan yang berhasil terekam media memang hanya pertemuan acara penyambutan Soekarno di Amerika Serikat saja. Setelah itu, mengenai kebenaran kelanjutan keintiman mereka berdua memang banyak mengandung rumornya.

Apakah mereka berpisah karena kedok kerjasama Marilyn Monroe terbongkar atau malah menjadi rumor istri Soekarno yang kesepuluh memang tidak pernah ada penjelasannya lagi. Biar bagaimanapun, karisma Soekarno di mata dunia memang tidak bisa dipandang sebelah mata.