Laga antara Bhutan vs Montserrat merupakan sebuah pertandingan ‘final’ yang cukup menyita perhatian sebagian pecinta sepak bola. Pertarungan kedua tim tersebut mendapatkan sorotan pada tahun 2002 silam.

Bahkan pertandingan itu sempat difilmkan pada tahun 2003 dengan judul ‘The Other Final’ oleh sutradara asal Belanda, Johan Kramer. Ini pun sepertinya sudah cukup membuktikan bahwa laga Bhutan vs Montserrat bukanlah pertandingan biasa.

Kedua tim nasional tersebut memang telah mengatur jadwal untuk bertarung di pertandingan persahabatan resmi FIFA. Lalu, apa yang membuat laga Bhutan vs Montserrat ini begitu menyita perhatian sebagian penikmat si kulit bundar?

Bagi beberapa pihak, pertarungan tersebut adalah final yang menentukan siapa tim paling terburuk di ranking FIFA. Mengingat, Bhutan dan Montserrat adalah dua tim yang menduduki peringkat paling bawah di ranking otoritas sepak bola dunia tersebut.

Pada tahun 2002 silam, Montserrat menduduki peringkat terakhir di ranking FIFA dunia, dengan Bhutan berada di peringkat kedua terakhir. Sebelum pertemuan mereka, Bhutan, yang pertama kali bertanding pada tahun 1982, tidak pernah memenangkan pertandingan resmi.

Sementara itu, Montserrat, yang melakukan debutnya pada tahun 1950 silam, hanya berhasil meraih dua kemenangan. Itu terjadi ketika mereka mnghadapi Anguilla di Piala Karibia 1995. Ini pun menjadi kemenangan yang pernah mereka lakukan sepanjang sejarah, setidaknya sampai tahun 2002 silam.

Pertandingan ini diketahui diselenggarakan di Stadion Changlimithang, Thimphu, Bhutan, pada hari yang sama dengan final Piala Dunia 2002 silam. Sekedar informasi tambahan, saat itu, hampir seluruh penikmat sepak bola telah menaruh perhatian penuh pada laga Brasil vs Jerman.

Namun, di sisi lain, beberapa orang justru menaruh perhatian yang lebih pada pertandingan final terburuk antara Bhutan vs Montserrat. Dapat dipastikan pula bahwa pertarungan ini begitu berarti bagi penduduk kedua negara kecil tersebut.

Latar Belakang Laga Bhutan vs Montserrat

The Other Final | The Worst in the World

Bhutan sendiri memang bukan negara yang memfokuskan diri pada perkembangan sepak bola. Mengingat, negara tersebut mengalami kendala keuangan dan kemerosotan popularitas dalam permainan si kulit bundar pada tahun 1980-an hingga 1990-an. Situas itu membuat Bhutan memiliki fasilitas yang begitu rendah, sehingga menghalani mereka untuk lolos ke Piala Dunia.

Hal serupa juga dialami oleh Montserrat, di mana negara itu mengalami kemalangan yang sangat signifikan ketika hunung berapi Soufriere Hills meleteus. Insiden itu menyebabkan kerusakan parah secara luas di pulau tersebut.

Aktivitas seismic itu sebenarnya telah terjadi pada tahun 1897–1898, 1933–1937, dan 1966–1967, tetapi letusan yang dimulai pada 18 Juli 1995 adalah yang pertama sejak abad ke-16 di Montserrat.

Ketika aliran piroklastik dan semburan lumpur mulai terjadi secara teratur, ibu kota negara, Plymouth, mulai dievakuasi. Seminggu kemudian, aliran piroklastik mengubur kota di bawah beberapa meter puing-puing. Peristiwa ini juga membuat hancur stadion sepak bola berstandar internasional di negara tersebut.

Kapal angkatan laut Inggris HMS Liverpool mengambil peran besar dalam mengevakuasi penduduk Montserrat ke pulau lain. Beberapa penduduk Monserrat saat itu dibawa ke Antigua dan Barbuda.

Sekitar 7 ribu orang, atau dua pertiga dari seluruh populasi, dikabarkan meninggalkan Montserrat, di mana 4 ribu di antaranya ke Inggris Raya. Bencana ini berdampak besar pada sepak bola di Montserrat dan tim tidak berkompetisi sama sekali selama empat tahun. Ketika mereka kembali, sejumlah pemain harus memainkan semua pertandingan mereka jauh dari Montserrat.

Maka tak heran jika Bhutan dan Montserrat saat itu berada di peringkat paling bawah ranking FIFA. Namun, salah satu warga Belanda mencoba untuk mengangkat reputasi kedua negara itu dengan membuat film dokumentasi.

Setelah Belanda gagal lolos ke Piala Dunia 2002, dua mitra agen periklanan Belanda, Johan Kramer dan Matthijs de Jongh, tidak memiliki tim untuk disemangati. Atas dasar itu, mereka merenungkan siapa tim nasional terburuk di ranking FIFA.

Mereka pun akhirnya berpikir tentang Bhutan dan Montserrat, yang begitu dekat satu sama lain di bagian bawah peringkat FIFA. Johan Kramer dan Matthijs de Jongh pun langsung mengatur pertandingan antara kedua negara.

“Saya pikir film dokumenter tentang kekalahan bisa menarik,” kata Kramer seperti dilansir Edisi Bonanza88 dari situs resmi FIFA. “Saya selalu menyukai cerita sepak bola. Saya pikir Bhutan dan Montserrat adalah kombinasi yang tidak biasa dari dua negara yang tidak memiliki kesamaan. Betapa hebatnya jika mereka bermain melawan satu sama lain? Itu adalah ide yang sangat naif. ”

Pertandingan itu tidak mudah diatur seperti yang dibayangkan. Pertama, pertandingan ini diatur oleh perorangan, bukan federasi sepak bola, selama jendela pertandingan internasional normal.

Kedua belah pihak menganggap ide itu tidak realistis pada awalnya, dan para pejabat dari kedua federasi menganggap saran awal pertandingan itu hanya lelucon dan memiliki sedikit pengetahuan tentang negara masing-masing.

Di mata Kramer, ini semacam cerita yang dibuat-buat. Kramer dan De Jongh mengirimkan dua faks kepada kedua asosiasi anggota untuk mengukur minat mereka dalam bermain. Internet tidak ada di mana-mana, baik di Bhutan maupun Montserrat.

“Montserrat sangat antusias, sementara Bhutan membutuhkan waktu sekitar tiga minggu sebagai umat Buddha yang bijaksana untuk memikirkannya dengan benar.”

De Jongh, yang menjadi produser proyek, adalah seorang penganut Buddha dan pernah ke Bhutan sebelumnya. Jadi, dia dengan senang hati memiliki kontak untuk menjelaskan gagasan itu dengan sangat teliti.

Dari sana, semuanya bergerak sangat cepat dan rasanya seperti takdir yang harus dibuat. Ide tersebut lahir pada Desember 2001, yang menurut Kramer hampir menguntungkan, karena orang tidak punya banyak waktu untuk memikirkannya.

Ada sesuatu yang seperti mimpi tentang keseluruhan film, dan itulah niat Kramer. Dia menggabungkan beberapa elemen fantastis dengan kenyataan. Ada adegan yang menggambarkan mimpi kedua kapten pada malam sebelum pertandingan.

Secara logistik, film itu sangat sulit diproduksi.

“Bagi saya, sangat memilukan melihat seberapa banyak upaya yang dilakukan tim, tetapi ini situasi yang sulit jika pulau Anda tidak memiliki lapangan sepak bola yang bagus,” kata Kramer.

“Saya sangat mengagumi kedua tim. Saya rasa banyak orang yang tidak menyukai sepak bola, (namun tetap) menyukai film ini karena ini lebih merupakan kisah manusiawi daripada kisah tentang sepak bola.”

Pertandingan itu menghasilkan hal yang indah. Sekolah-sekolah di Bhutan dan Montserrat melakukan proyek bersama dan bahkan menerbitkan perangko bersama. “Itulah keindahan sepak bola. Ini menghubungkan semua orang. Sepak bola bahasa universal. Bagi saya, ini adalah game terindah yang pernah saya lihat,” kata Kramer.

Tiga minggu sebelum pertandingan, pelatih Belanda Arie Schans terbang ke Bhutan untuk mengambil alih sementara tim dan mengambil sesi latihan harian selama empat jam, itu dilakukan agar tim bisa mempersiapkan pertandingan yang bakal mereka hadapi.

Ada banyak antisipasi di Thimphu sebelum pertandingan, meskipun Federasi Sepak Bola Bhutan berusaha mengecilkan pentingnya kemenangan, mengatakan lebih penting untuk fokus pada partisipasi daripada menang.

Namun, kedua pemain dari masing-masing negara sangat fokus untuk mendapatkan hasil positif di laga tersebut. Striker veteran Bhutan, Dinesh Chhetri mengatakan bahwa Bhutan akan menang dengan setidaknya dua gol atau lebih. Sedangkan gelandang Montserrat, Antoine Lake-Willix mengira timnya akan menang dengan nyaman 3-0.

Jalannya Pertandingan Bhutan vs Montserrat

De Remota Geographiae: The other final

Permainan dimulai dengan kuat untuk Montserrat yang menyerang dengan cepat, dan Bhutan berjuang keras sejak menit-menit awal pertandingan. Namun, perjuangan Bhutan langsung membuahkan hasil ketika laga memasuki menit ke-5.

Itu terjadi ketika Wangay Dorji menyundul bola je arah gawang untuk memberi Bhutan keunggulan awal. Gol itu pun membuat dorongan di kubu tim tuan rumah, dan memberi Bhutan momentum untuk terus maju, tetapi penyelesaian mereka lemah dan mereka tidak dapat mengubah sedikit peluang yang mereka ciptakan.

Montserrat mampu menahan Bhutan selama sisa babak pertama dan permainan tetap 1-0, setidaknya sampai satu jam berlalu. Ketika wasit asal Inggris Steve Bennett memberikan Bhutan tendangan bebas, Dorji melangkah maju dan mencetak gol keduanya dari permainan tersebut.

Momentumnya tetap bersama Bhutan dan penyerang veteran Dinesh Chhetri mencetak gol ketiga, sebelum Dorji mengambil catatan hattrick-nya dan memastikan kemenangan 4-0 yang menentukan. Ini merupakan kemenangan pertama mereka dan juga catatan clean sheet perdananya pada pertandingan resmi.

Kemenangan telak yang mereka dapatkan atas Montserrat ini membuat Dorji senang. Pemain yang berhasil mencetak hattrick itu juga mengakui bahwa lawannya mengalami kesulitan dalam adaptasi di atas lapangan.

“Rasanya luar biasa. Setelah kami mencetak gol pertama, kepercayaan diri kami tumbuh dan kami mencoba membuat banyak peluang untuk mencetak gol lagi, akhirnya memicu ke tiga gol berikutnya. Montserrat bermain bagus tetapi masalah ketinggian tampaknya menjadi kelemahan mereka,” katanya, dilansir Bonanza88 dari The Guardian.

Lebih lanjut, Dorji mengatakan bahwa dirinya hanya menargetkan dua gol dalam pertandingan Bhutan vs Montserrat ini. “Awalnya, target saya setidaknya bisa mencetak dua, tapi saya berhasil tiga gol,” katanya CNN.

Dorji juga mengatakan bahwa Bhutan, yang baru bergabung dengan FIFA dua tahun lalu (tahun 2000), bisa melakukan lebih baik dengan lebih banyak eksposur. Ini merupakan sebuah kemenangan yang begitu berarti bagi negaranya.

Di sisi lain, pelatih asal Belanda yang ditunjuk khusus untuk mendampingi Bhutan pada pertandingan ini, Aric Schanz, memperlihatkan rasa senangnya. Ia memberikan apresiasi kepada para pemain Bhutan, yang mampu memenangkan laga secara telak.

“Selama tiga sampai empat pekan terakhir kami berlatih sangat keras,” kata pelatih Bhutan Aric Schanz. “Saya berharap anak-anak akan menerjemahkannya menjadi tujuan, dan mereka berhasil.”

Sementara itu, kekalahan yang dialami Montserrat ini memang dipengaruhi oleh kondisi fisik yang begitu lemah. Mengingat, mereka berjuang sebagai tim dengan kekurangan oksigen (permainan itu dimainkan di 7.500 kaki di atas permukaan laut).

Situasi itu sangat kontras dengan kondisi Montserrat, yang merupakan negara Karibia antara Guadaloupe dan Antigua, di mana ibu kota Plymouth terletak hanya 390 kaki dari permukaan laut.

Atas dasar itulah, mereka jarang memberikan ancaman di gawang Bhutan. Beberapa laporan mengatakan bahwa Montserrat hanya memiliki satu tembakan. Sekedar informasi tambahan, satu tembakan itu dihasilkan oleh kreasi Vladimir Farrell.

Kondisi itu memang dibenarkan secara langsung oleh pelatih Montserrat, William Lewis. Dirinya saat itu mengaitkan kinerja timnya yang tidak bersemangat dengan ketinggian permukaan tanah. Menurutnya, ketinggian (permukaan tanah) memainkan peran yang sangat besar.

“Kami mendarat Senin lalu dan saya pikir akan lebih baik jika kami datang dua minggu sebelumnya untuk menyesuaikan diri dengan iklim yang lebih baik,” kata pelatih William Lewis seperti dikutip Bonanza88 dari CNN.

Kapten Montserrat saat itu, Charles Thompson bersikap filosofis tentang kekalahan timnya dari Bhutan. Akan tetapi, sang pemimpin lapangan dari kubu Montserrat itu berharap agar pertarungan itu bisa kembali dimainkan di markasnya.

“Ketinggian (permukaan tanah) adalah faktor besar dan kondisi yang tidak biasa kami alami. Kami ingin Bhutan mendapat kesempatan untuk datang ke tempat kami dan bermain di sana,” kata Charles Thompson.

“Itu pertandingan yang bagus, sangat kompetitif. Kami bermain sangat keras dan kami menerima kekalahan. Saya pikir kami bermain dengan semangat FIFA dan tentang apa sepak bola itu,” ujar Charles Thompson menambahkan.

Terlepas dari itu, ada sekitar kurang lebih 15 ribu penonton yang menyaksikan pertandingan tersebut secara langsung. Bhutan juga saat itu turut menampilkan program tari selama satu jam yang dirancang untuk menampilkan tradisi Buddha di negara tersebut.

Kemenangan telak yang mereka raih atas Montserrat itu, membuat Bhutan berhasil naik dua peringkat di ranking FIFA (tahun 2002). Sementara itu, Montserrat tetap berada di papan bawah ranking otoritas tertinggi sepak bola dunia.

Trofi Dibelah 2

FIFA.com on Twitter: "🏆 On the same day as the 2002 #WorldCup final, the  world's two worst teams played a match of their own 📉 🇧🇹Bhutan vs 🇲🇸 Montserrat became the subject of '

Terlepas dari kemenangan Bhutan atas Montserrat, trofi tersebut dibagikan oleh kedua tim dengan cara membelahnya. Mereka pun dikabarkan duduk bersama untuk menonton pertandingan final Piala Dunia 2002 di televisi.

“Dalam satu jam lagi, kedua tim akan duduk bersama bukan sebagai pemain kompetitif, tetapi sebagai teman dan penggemar untuk menonton final Piala Dunia 2002 Jerman dan Brasil,” tutup Charles Thompson.

Kramer menjelaskan bahwa setelah pertandingan Bhutan vs Montserrat itu berakhir, banyak hal yang sangat luar biasa. Itu terjadi ketika sejumlah pendukung Bhutan memberikan semangat kepada Montserrat.

“Separuh dari populasi Thimphu menonton permainan. Apa yang terjadi di babak kedua benar-benar luar biasa. Bhutan menang tetapi penonton merasa agak bersalah karena dalam pikiran mereka, sebagai umat Buddha, seharusnya tidak ada pemenang. Hasil imbang akan menjadi skor terbaik bagi mereka, jadi mereka bersorak untuk lawan,” kata Kramer.

“Saya pikir mereka benar. Itu adalah proyek paling istimewa yang pernah saya lakukan. Seluruh energinya benar. Ada begitu banyak momen yang tidak biasa. Ada terlalu banyak momen spesial untuk disebutkan.”

Kramer coba melobi FIFA dengan gagasan kemungkinan meniru konsep The Other Final dengan piala dibagi dua dengan harapan terciptanya keselarasan. Untuk saat ini, kita semua dapat memimpikan final antara Anguilla dan San Marino pada 18 Desember 2022.