Burger atau hamburger sudah dikenal ribuan tahun lalu. Ada banyak teori yang mengatakan asal mula burger ini. Ada yang menyebut burger pertama kali muncul di Hamburg, Jerman pada abad pertengahan. Saat itu Hamburg merupakan pusat pertemuan antar pedagang dari Arab dan Eropa.

Saat itu para pedagang Arab sering makan makanan yang disebut Kibbeh, berupa daging kambing cincang dicampur dengan rempah-rempah lantas dipanggang. Penduduk Hamburg kemudian mulai berkenalan dengan makanan ini, hanya saja mereka menggantinya dengan daging sapi dan mengolahnya dengan teknik memasak ala mereka sendiri. Dari sinilah kemudian muncul nama Hamburger yang kemudian menjadi sangat populer.

Hamburger (atau sering sekali disebut dengan burger) adalah sejenis makanan berupa roti berbentuk bundar yang diiris dua dan di tengahnya diisi dengan patty atau isian burger yang biasanya diambil dari daging, kemudian sayur-sayuran berupa selada, tomat, dan bawang bombai. Sebagai sausnya, burger diberi berbagai jenis saus seperti mayones, saus tomat, dan saus sambal serta mustard.

Sejarah Hamburger Masih Misterius

The History of Burgers - Jellybean Creative Solutions

Nama hamburger sendiri bukan berasal dari “ham” atau daging asap dalam bahasa Inggris, melainkan berasal dari nama kota Hamburg di negara Jerman yang menjadi awal mula daging di dalam burger berasal. Jadi, dapat disimpulkan bahwa arti kata hamburger berarti “makanan yang berasal dari Hamburg”. Kemudian dari kota kedua terbesar di Jerman ini banyak penduduknya yang beremigrasi ke Amerika dan menyebarkan pembuatan burger ke sana.

Sebelum menyebar di Eropa, daging burger sudah lama menjadi makanan khas bangsa Tartar di Asia Tengah.  Makanan tersebut berupa daging cincang yang disantap mentah-mentah dengan perasan jeruk. Lalu makanan tersebut dibawa ke benua Eropa, tepatnya ke kota Hamburg. Karena masyarakat di sana menolak memakan daging yang tidak dimasak, maka daging khas Tartar tersebut mengalami modifikasi dengan dibakar atau digoreng.

Populer di Amerika

Sajian daging tersebut kemudian semakin disukai oleh banyak orang dan dikenal sebagai “Hamburger Steak”. Daging hamburg tersebut kemudian dibawa para imigran Hamburg ke Amerika. Dari Amerika lah penganan burger, yakni roti bulat yang diisi daging dengan berbagai sayur dan acar, mulai dikenal hingga sekarang.

Ada berbagai macam versi awal mula terciptanya burger atau hamburger di Amerika. Ada yang mengatakan bahwa burger diciptakan dua bersaudara dari Ohio, yakni Frank dan Charles Menches dari negara Ohio, Amerika Serikat. Awalnya mereka menjajakan sandwich dengan isi sosis. Namun, suatu saat mereka kehabisan sosis, akhirnya mereka mengganti dengan daging sapi cincang sebagai isian untuk rotinya. Makanan yang ditemukan dengan tidak sengaja itulah menjadi disukai banyak orang yang kemudian menjadi Burger.

Terdapat banyak versi cerita

The History of Hamburgers | KaTom Blog

Menurut Komunitas Sejarah Seymour di Winconsin, Amerika, mereka menyebutkan nama Charlie Nagreen sebagai pencipta hamburger. Pada saat itu Charlie berjualan sandwich yang diisi dengan bakso di Seymour Fair pada tahun 1885. Namun, karena makanan tersebut tidak laku, akhirnya dia mendapat ide untuk melakukan pemipihan pada bakso serta menaruhnya diantara irisan roti. Hasilnya, temuan Charlie tersebut digemari oleh banyak orang.

Sedangkan menurut catatan Perpustakaan Kongres Amerika Serikat serta Pemerintah negara Connecticut, hamburger pertama kali dijajakan pada tahun 1895 oleh orang yang bernama Saat Louis Lassen. Awalnya, jajanan itu belum mempunyai nama. Kemudian datang pelaut-pelaut dari kota Hamburg, Jerman yang mampir ke restoran Louis Lassen dan menamakan jajanan tersebut dengan nama “Hamburger”.

Burger tidak harus dibuat dari daging saja. Jaman sekarang banyak sekali jenis2 burger, dari mulai yang dibuat dengan daging (sapi, bebek, ayam, kambing) atau tanpa daging seperti vegetarian burger.

Indonesia pun sebenarnya punya juga makanan yang versinya hampir seperti burger, yaitu lemper. Konsepnya hampir sama bedanya kalau hamburger pakai roti, lemper dagingnya dibungkus dengan nasi. Dinegara bagian Hawaii ada makanan setempat yang namanya Loco Moco, yaitu burger yang dimakan dengan nasi. Mirip kan?

  1. Burger Cabe Hijau ala Mexico

Burger ini sama dengan burger pada umumnya, hanya saja uniknya di dalam dagingnya di tambahkan irisan cabai hijau, dan tentu rasanya pedas tapi mantap.

  1. Burger Ikan Salmon

Ikan salmon yang biasa dihidangkan dengan sayuran, tapi kalau ini ikan salmon dibuat untuk bahan pelengkap isi burger yang dilapisi sayuran dan roti.

  1. Barbeque Burger Korea

Burger yang satu ini ditambahkan dengan saus barbeque ala korea, sama halnya dengan burger lain hanya saja di dalam burgernya memakai saus barbeque yang ada rasa pedasnya seperti bumbu bumbu masakan Korea.

  1. Burger Daging Bebek Bumbu

Burger ini agak sedikit berbeda dengan burger pada umumnya, hanya saja memakai daging bebek agak terlihat unik, dan menarik selera.

  1. Loco Moco: Burger Nasi dari Hawaii

Burger yang satu ini adalah burger yang paling unik dari burger lainnya, karena memakai bahan pelengkap nasi dan sangat cocok untuk perut dan lidah orang Indonesia.

  1. Burger Ramen

Perlu dicoba karena unik dan kebetulan orang kita (Indonesia) suka sekali dengan mie. Di indonesia sendiri sudah banyak yang menjual burger dibuat dengan mie sebagai pengganti roti.

  1. Burger Kambing Dari Yunani

Nah, siapa yang suka daging kambing? Terlihat enak dan beda dari burger yang lain. Untuk yang memiliki tensi darah tinggi dan kadar kolesterol tinggi disarankan jangan makan terlalu banyak.

Loco Moco, Burger Khas Hawai

Loco Moco - Hawaiian Comfort Food | Girls Can Grill

Perkawinan  citarasa masakan dua atau lebih negara biasa terjadi pada sebuah sajian, kita mengenalnya dengan menu fusion. Contohnya loco moco, makanan dari Jepang yang mendapatkan pengaruh makanan Hawaii.

Dari segi nama, kedengarannya cukup unik, loco artinya “lokal” sedangkan moco berarti “nasi”. Menurut Shinjiro Asano dari Pearl Marketing Solution untuk Restoran Aloha Terrace, loco moco berasal dari dongeng di Hawaii.

“Ada satu anak laki-laki yang diminta masak oleh seseorang dengan bahan yang murah, proses memasak cepat dan hasilnya enak. Hasilnya itu, loco moco,” katanya dilansir Edisi Bonanza88 dari beberapa sumber.

Menu loco moco terdiri dari nasi lokal Jepang yang pulen, diberi daging hamburger, telur ceplok, dan selada. Di atasnya disiram saus saus teriyaki dengan sentuhan saus tomat agar bisa memberikan sensasi rasa menyerupai sambal Indonesia.

“Menu ini sebenarnya masih tahap riset, kami ingin tahu sebenarnya menu apa yang cocok dengan orang Indonesia,” lanjut Shinjiro.

Di Hawaii sendiri, dalam hidangan ini terdapat tambahan potongan buah-buahan segar. Daging yang digunakan pun daging babi, hanya saja di sini harus disesuaikan dengan orang Indonesia yang sebagaian besar Muslim. Nantinya, akan ditambah topping lagi sesuai dengan permintaan pengunjung.

Burger Tertua di Yogyakarta

Sejarah panjang Burger Monalisa, burger terbaik favorit kita semua | by  Agib Tanjung | Medium

Bicara soal Yogyakarta, tentu tak bisa lepas dari dunia kulinernya. Kota ini sejak dulu memang punya beragam makanan lezat, hingga beberapa di antaranya sudah melegenda. Misalnya gudeg, bakmi, sate klathak, lotek, hingga soto, semuanya komplet ada di kota yang akrab disapa dengan sebutan Jogja ini.

Dari deretan jajanan legendaris itu salah satunya adalah Burger Monalisa. Meski bukan menu asli Indonesia, siapa sangka burger milik Wibowo Agung Sanyoto ini termasuk burger Jogja paling tua.

Diceritakan oleh Agung, sapaan akrabnya, Burger Monalisa pertama kali membuka lapaknya pada tahun 1988. Saat itu Agung masih mengenyam bangku kuliah di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Teknik Perminyakan Babarsari Yogyakarta.

Ide Agung untuk berjualan muncul karena pada saat menunggu pengumuman ujian, kampusnya selalu libur lama. Akibatnya dia banyak menganggur dan merasa harus mencari kegiatan positif untuk mengisi waktu luangnya itu. Agung akhirnya merayu mendiang ibunya yang jago memasak untuk membuatkan resep burger.

“Sejarah Monalisa ini cukup panjang dan unik. Padahal tahun segitu (1988) masyarakat Jogja belum banyak yang tahu burger. Ibu juga waktu itu juga bingung burger itu makanan apa. Lalu saya sempat belikan dulu burger restoran untuk kasih contoh pada ibu,” kata Agung.

Rupanya usai mencoba burger restoran itu, ibu Agung merasa tertantang untuk mencoba membuatnya sendiri. Akhirnya mereka mulai bereksperimen mencari olahan bumbu saus mayones beserta daging sapinya.

“Setelah ibu mencoba, ibu juga sepakat kalau burger restoran yang saya beli itu biasa aja. Lalu saya diskusi sama ibu, apa bisa kita bikin resep mayones sendiri biar lebih enak. Ibu bilang, bisa!” ujarnya.

Usai mencoba beberapa kali lalu menemukan resep yang pas, Agung mulai memberanikan diri membuka lapak burgernya. Awalnya dia membuka dengan nama Garfield Burger, lokasinya di pinggiran Jalan Kaliurang yang masih satu area dengan Universitas Gadjah Mada (UGM). Alasan di balik pemilihan namanya juga spontan. Menurut Agung saat itu tokoh Garfield sedang hits dan pasti nama itu langsung bikin ‘ngeh’ banyak orang.

“Tapi saya berpikir, tahun-tahun depan kan belum tentu Garfield masih dikenali masyarakat. Kemudian saya punya ide cari nama yang mendunia tapi melafalkannya gampang. Akhirnya ketemu nama Monalisa. Intinya kami ingin burger Jogja ala kami ini bisa melegenda seperti sosok legendaris Monalisa,” papar Agung.

Keistimewaan Burger Monalisa

Burger Monalisa, Burger Legendaris dari Jogja Jogja

Pada umumnya burger bercita rasa gurih, namun Monalisa berbeda. Burger Jogja ini sengaja menciptakan rasa yang khas seperti mayoritas makanan Jogja pada umumnya, yakni manis-pedas. Rasa burgernya bikin salut para pelanggan karena tak pernah berubah. Selalu konsisten dengan kelezatan sederhana ala Jogja.

Jika kamu terbiasa dengan burger mainstream, mungkin kamu akan kaget campur aneh ketika pertama kali mencicipi racikan bumbu Burger Monalisa. Saus mayonesnya sangat khas, dominan manis, dan kaya akan bumbu rempah rahasia. Selain itu daging sapinya juga sangat lembut. Tak heran jika banyak orang menyebut Burger Monalisa adalah ‘Burger Jawa’.

“Jadi kami yang memang asli orang Jogja ini, ya tentu nggak bisa meninggalkan cita rasa makanan Jogja yang cenderung manis. Itu memang kami bikin formula resep yang betul-betul Jogja banget. Meski sebenarnya juga nggak bisa dipungkiri selalu ada orang yang komentar kok saus mayonesnya beda, manis. Tapi ya inilah burger Jogja asli, autentik banget rasanya,” ujar Agung sembari tertawa.

Rotinya juga terasa spesial karena juga diproduksi sendiri dan punya cita rasa rumahan banget. Bentuknya pun unik. Jika biasanya roti burger berbentuk bundar lalu diiris jadi dua bagian, Monalisa justru menggunakan roti custom dari satu roti bundar yang tak diputus, hanya dilipat.

“Kenapa rotinya tidak diputus bentuknya, ini sebenarnya memudahkan kami untuk memasukkan sayuran dan daging agar tidak lari ke mana-mana. Selain itu biar saat dimakan saus mayones dan isi burgernya tidak gampang jatuh,” bebernya.

Ciri khas burger Jogja yang diciptakan Agung nyatanya berhasil. Salah satu tolok ukurnya, Monalisa juga sangat disukai para bule. Agung merasa bangga karena burger rasa Jawanya ternyata cocok di lidah orang asing, padahal mereka sudah terbiasa dengan rasa burger pada umumnya.

“Bahkan sampai sekarang ya, bule-bule yang datang ke Jogja, entah itu wisatawan atau mahasiswa yang sedang pertukaran pelajar, ke sini juga dan nyatanya nggak masalah sama rasa Burger Monalisa. Rata-rata bule yang datang malah selalu pesan dua burger. Mereka ternyata doyan kan, sama burger Jogja?” kata Agung bangga.

Selain punya karakter rasa yang tiada duanya, Monalisa terasa istimewa karena bisa dibilang burger Jogja pertama. Meski sebenarnya kala itu sudah ada lapak burger kompetitor, namun nyatanya tak bisa bertahan seperti Monalisa sampai sekarang.

“Kalau tertua konteksnya kontinuitas, kami bisa katakan kami adalah burger Jogja tertua. Karena pada saat kami berdiri saya pastikan waktu itu memang sangat jarang sekali orang berani jualan burger lalu ditampilkan sebagai menu khusus atau spesifik jualan burger aja,” ujar Agung.

Menurutnya, Jogja pada tahun 1988 kulinernya masih sangat sepi. Burger Monalisa adalah lapak kaki lima yang kedua di sepanjang area Jalan Kaliurang. “Yang pertama sudah jualan lebih dulu adalah warung tenda nasi goreng yang juga laris. Kedua baru Monalisa.”

Alasan Agung berjualan di seputaran daerah UGM juga dipikirkannya matang-matang. Padahal rumah Agung sendiri lumayan jauh dari daerah tersebut. Tapi sejak awal dia sudah punya keyakinan kalau lapak burgernya bakal laris, karena pada saat itu Jalan Kaliurang selalu ramai dengan para mahasiswa yang kebingungan mencari tempat makan di malam hari. Burger pun jelas belum dikenal banyak orang dan bakal bikin orang penasaran.

Prediksi Agung benar. Setelah beberapa hari membuka lapak burgernya, banyak mahasiswa yang naik motor lewat lalu akhirnya berhenti. Menurut Agung mereka sangat antusias, penasaran, dan akhirnya mereka beli untuk sekadar coba-coba.

“Saya berniat jualan di area itu, karena saya berpikir saat itu Jogja sangat banyak punya komunitas pelajar. Toh, nyatanya alhamdulillah mereka ternyata cocok dan balik lagi bersama teman-temannya karena ketagihan. Modalnya ya cuma gethok tular alias promosi dari mulut ke mulut pelanggan saja,” ujarnya bangga.

Saat itu Burger Monalisa benar-benar sederhana. Berbentuk lesehan dan menggunakan spanduk kecil, Agung cuma mengandalkan satu meja untuk meracik burger dan beberapa tikar kecil untuk lesehan para konsumennya. Pertama kali dirinya berjualan, dia mengajak sekitar total empat orang, termasuk salah seorang sopir.

“Saya ingat pertama kali jualan dulu masih pakai lampu petromak. Karena dulu masih sangat susah, bingung mau narik listrik dari mana. Pada saat itu saja harga seporsi burgernya masih Rp 400,” papar Agung.

Ketika ditanya soal omzet, Agung enggan menjawab dan hanya tersenyum. Dia cuma membeberkan hasil penjualan Burger Monalisa sejak dulu sampai saat ini selalu bagus.

“Kalau omzet keseluruhan itu sehari aja bisa ratusan (porsi), kalau soal nilainya mohon maaf saya tidak bisa sebutkan. Yang jelas saya akui omzetnya memang sampai sekarang selalu menggiurkan. Paling penting lagi, alhamdulillah Monalisa ini masih bisa menghidupi banyak orang, terutama para karyawan kami.”

Kini Burger Monalisa punya lima cabang di Jogja. Yang pertama adalah lapak pusat sejak tahun 1988 yang sampai sekarang masih berdiri tegak di Jalan Kaliurang, Sekip. Kedua ada di rumah Agung daerah Jalan Sisingamangaraja yang juga sekaligus menjadi pabrik pengolahan bahan bakunya. Ketiga ada di Jalan Damai, keempat di Babarsari, dan kelima di Mrican.

Kelima cabang itu tak dipegangnya sendirian. Agung dibantu oleh dua saudaranya, yakni Reni Dewi Cahyani dan Condrokumolo Sayuti Nugroho untuk mengelola kelima cabang tersebut.

Meski sampai sekarang Monalisa hanya ada di Jogja, Agung dan keluarga besarnya sudah tertarik untuk melakukan waralaba alias franchise. Agung tetap punya keinginan untuk melebarkan sayap bisnis burger Jogjanya itu ke beberapa kota besar di Indonesia.

“Bagaimana pun kami ini sudah berjualan burger 30 tahun. Tentu saja selalu memikirkan gimana caranya produk Monalisa ini bisa eksis di luar kota, ya minimal harus Jakarta dan Bandung dulu. Karena jelas dua kota itu juga kotanya kuliner Indonesia, makanan apa saja pasti ada. Selain itu konsumen di sana tidak pernah mempermasalahkan harga. Ya semoga tahun ini bisa, didoakan saja semoga burger Jogja tak kalah saing dengan kuliner lokal lainnya,” tutup pria berusia 54 tahun ini.

Selain burger sebagai menu andalan, Monalisa juga menawarkan variasi menu lain yang tak kalah sedapnya, seperti hot dog, pisang bakar, spageti, roti bakar dan kentang goreng. Semua harga menunya pun masih masuk akal dengan kantong mahasiswa zaman sekarang