Bukan tanpa alasan media-media barat menyebutnya “Si Anjing Gila”. Kolonel Muammar Mohammed Abu Minyar al-Khadafi, si penyandang julukan itu, memerintah Libya selama 42 tahun.

Sepanjang empat dekade lebih itu ia dikenal sebagai pembangkang terhadap dunia Barat. Khadafi naik ke tampuk kekuasaan melalui sebuah pemberontakan di Benghazi, kota di timur Libya, yang kemudian melebar ke ibu kota Tripoli.

Gerakan 1 September, demikian nama pemberontakan itu, tak menuai perlawanan berarti dari raja Libya saat itu, Idris I, yang saat itu tengah menjalani perawatan medis di Turki. Pada awal pemerintahannya, Khadafi meluncurkan sejumlah kebijakan populis yang sangat diapresiasi masyarakat.

Ia mencabut izin markas militer Amerika Serikat dan Inggris di Libya, mendirikan Bank Sentral Libya, dan mengambil alih industri minyak mentah dengan mendirikan perusahaan minyak negara (NOC).

Selain menyita aset-aset asing, Khadafi rajin blusukan ke desa-desa, menyapa warganya, kadang tanpa pengawal. Hal yang paling diutamakan Khadafi saat itu adalah pembangunan sekolah, rumah sakit, jalan, dan segala jenis infrastruktur. Tahun 1975, perubahan kepemimpinan Khadafi mulai terlihat.

Ia menerbitkan manifesto bertajuk Buku Hijau pada tahun yang sama. Seturut manifesto itu, Khadafi mengecam parlemen dan sistem pemungutan suara sebagai bentuk pemerintahan diktator.

Sejak itu Khadafi dipandang telah menghancurkan kebebasan politik dan mengantarkan Libya ke arah otoritarianisme. New York Times mencatat bagaimana rezim mulai menyikat para pengkritik, yang tak jarang diinterogasi dan diadili di hadapan massa. Adegan-adegan itu disiarkan di televisi.

Pada 2011, setelah Khadafi lengser, Human Rights Watch berhasil mendapat rekaman mahasiswa bernama Sadiq Hamed Shwehdi yang digantung di lapangan basket di Benghazi pada 1984. Sadiq didakwa bersalah hanya karena beroposisi terhadap rezim. Ia juga dituduh sebagai “agen Amerika”.

Khadafi juga mendukung kelompok-kelompok bersenjata yang beroperasi di Eropa, Timur Tengah, hingga Afrika, di antaranya Fraksi Tentara Merah (Jerman Barat), Tentara Republikan Irlandia, Brigade Merah (Italia), dan Organisasi Pembebasan Palestina, dan Jalan Terang (Peru).

Yang paling fenomenal adalah pemboman pesawat Pan Am rute Frankfurt-Detroit pada 1988. Pesawat itu jatuh di Lockerbie, Skotlandia. Pada 2003, Khadafi menyatakan bertanggungjawab atas pemboman itu.

Dikhianati Barat Rezim Khadafi melakukan blunder luar biasa ketika melarang anggota keluarga menjenguk narapidana di penjara Abu Salim, Tripoli yang kebanyakan berisi tahanan politik. Walhasil, ada banyak tahanan yang berusaha melarikan diri. Pemberontakan di dalam penjara pun pecah pada Juni 1996. Sebanyak 1.200 orang narapidana diberondong peluru oleh pasukan khusus yang menggunakan senjata laras panjang.

Sejumlah personel menggunakan pistol untuk menembak siapa pun yang masih hidup dari jarak dekat. Ribuan jenazah kemudian dikubur dalam parit yang di atasnya kelak dibangun sebuah tembok penjara yang baru. Sejak akhir 2010, Timur Tengah dan Afrika Utara disapu gelombang revolusi. Pemerintahan diktator Ben Ali di Tunisia ditumbangkan rakyatnya sendiri, begitu pula Hosni Mubarak di Mesir.

Peristiwa yang dikenal dengan Arab Spring ini akhirnya memicu gerakan massa besar-besaran di Libya untuk menjatuhkan Khadafi. Beberapa menteri Khadafi juga mengundurkan diri dan membentuk National Transitional Council (NTC) untuk mendesak PBB mengambil sikap terhadap Khadafi.

Upaya ini diambil sebagai tindak lanjut atas perebutan kembali Benghazi yang sebelumnya dikuasai pemberontak. NTC menuding Khadafi telah membantai dan memperkosa warga sipil. Namun, tuduhan ini sulit dibuktikan dan PBB tak kunjung mengambil tindakan militer. 

Kisah Miris Brigade Khusus Khadafi

Kisah Nisreen, Gadis Cantik Tentara Khadafi

Nisreen Mansour al Forgani adalah gadis jelita berusia 19 tahun. Namun, di balik kejelitaannya, Nisreen adalah satu dari seribu milisi wanita yang direkrut Muammar Kadafi. Saat Kadhafi berkuasa, Nisreen adalah salah satu pasukan loyal berdarah dingin.

Pekan lalu, dia telah menembak mati 11 tahanan oposisi Libya. Kini, Nisreen hanya bisa terkulai lemah dalam kawalan ketat para pemberontak Libya dan menunggu nasib setelah junjungannya kalah.

Dilansir Edisi Bonanza88 dari Daily Mail melansir, Nisreen saat ini tengah dirawat di sebuah rumah sakit Tripoli akibat luka serius setelah para pemberontak merangsek ibukota Libya tersebut. Kepada Daily Mail, Nisreen mengaku eksekusi kepada para tahanan adalah perintah atasannya.

“Saya mengeksekusi tahanan pertama dan kemudian tahanan lainnya dibawa ke dalam ruangan. Tahanan berikutnya terlihat kaget saat melihat mayat temannya dan saya langsung menembak dia dalam jarak satu meter,” tutur Nisreen.

Pemilik bola mata berwarna cokelat ini mengaku dirinya melakukan eksekusi karena berada dalam tekanan kuat para atasannya. Dia juga mengaku mengalami kekerasan seksual oleh atasannya. Sang atasan adalah komandan brigade elit di Tripoli pengawal Kadhafi.

“Kepada para pemberontak, saya menceritakan semua yang saya lakukan. Mereka sangat marah. Sekarang, saya tak tahu apa yang akan terjadi pada diri saya,” kata Nisreen.

Bagaimana Nisreen bisa bergabung dengan milisi kejam Kadafi? Dia mengaku sebenarnya berasal dari keluarga anti-Kadhafi. Nasibnya berubah setelah orang tuanya bercerai dan dia tinggal bersama ibunya. Saat itulah jalan nasib Nisreen berubah. Salah satu teman ibunya adalah Fatma al Dreby.

Dia adalah pemimpin cabang milisi wanita pengawal Kadafi Tahun lalu, Nisreen meinggalkan kuliahnya untuk merawat ibunya yang terkena kanker. Pada saat bersamaan, Fatma tengah mencari kader baru sebagai anggota pasukan wanita pengawal Kadafi. Nisreen kemudian direkrut. Keluarga Nisreen awalnya menolak dan protes keras atas langkah Fatma.

Namun, protes tersebut tak dihiraukan. Maklum, Nisreen masuk dalam kategori calon anggota pasukan yang menempatkan kecantikan sebagai salah satu syarat utamanya.

“Saya sempat bertemu kawan kuliah bernama Faten saat menjalani latihan milisi,” katanya. Sebagai anggota pengawal pemimpin Libya, Nisreen mendapatkan pelatihan militer dan ketrampilan tempur lainnya. Dia secara khusus dilatih untuk menjadi penembak jitu dalam pasukan wanita pengawal Kadafi.

Saat Libya mulai memanas oleh pemberontakan Februari lalu, Nisreen bersama Faten dikurung pada sebuah pos penjagaan bergerak di dekat bandara Tripoli. Tugas utama mereka adalah memeriksa dan melakukan patrol. Unit mereka berpusat di markas Brigade 77 yang berada di depan tempat tinggal Kadafi di Bab Al-Azizya.

Selama berada di Bab Al-Azizya, Nisreen mengaku hanya sekali melihat Kadafi secara langsung saat iring-iringan diktaktor Libya tersebut melintas melalui pos penjagaannya. Menurut Nisreen, Fatma yang merekrutnya adalah sosok loyalis Kadafi sejati.

“Dia sempat bilang kepada saya jika ibunya mengatakan sesuatu keburukan Kadafi, dia tak akan segan membunuhnya langsung. Jika saya yang mengatakan keburukan Kadhafi, dia langsung mengurung saya. Dia juga mengatakan kepada kami jika pemberontak datang, mereka akan memperkosa kami semua,” ujar Nisreen.

Sialnya, justru bukan pemberontak yang memperkosa Nisreen dan teman- temannya. “Fatma mempunyai ruangan di markas Brigade 77 lengkap dengan tempat tidurnya. Suatu malam, saya disuruh masuk ke dalam kamar itu dan kemudian Mansour Dau, komandan Brigade 77, datang dan mengunci pintu sebelum memperkosa saya,” tuturnya.

Nisreen bukan satu-satunya anggota Brigade 77 yang mengalami kekerasan seksual. Menurutnya, Fatma secara bergilir mengirim anggotanya ke dalam kamarnya untuk digauli oleh Mansour Dau. Celakanya, bukan hanya Mansour saja yang menggauli Nisreen. Dia kemudian juga ditiduri oleh anak Mansour bernama Ibrahim dan seorang komandan perang Kadafi lainnya bernama Noury Saad.

Tindak perkosaan semakin sering terjadi seiring memanasnya suhu politik Libya oleh pemberontakan. Setelah aksi protes yang berujung pemberontakan makin menjadi dan penangkapan mulai dilakukan, Nisreen kemudian mendapat tugas baru yaitu membunuh para tahanan.

“Saya berusaha untuk tidak membunuh mereka. Saya memalingkan wajah saat menembak. Namun, saya menyadari salah satu dari para tentara yang ada di tempat kejadian akan segera menembak saya jika saya tak menembak para tahanan,” katanya sembari terisak.

Nisreen mengaku tak pernah melakukan kekerasan apalagi membunuh sebelum situasi politik Libya memburuk. “Saya tak pernah menyakiti siapa pun. Saya dulu menjalani kehidupan dengan normal-normal saja,” katanya. Saat para pemberontak mulai menguasai Tripoli, Nisreen memutuskan untuk meloncat dari lantai dua kamarnya yang menjadi lokasinya mengeksekusi para tahanan.

Akibat tindakan nekatnya, Nisreen kini harus dirawat di rumah sakit dalam pengawasan ketat para pemberontak. Dia mengalami cidera akibat jatuh dan tertabrak oleh sebuah truk saat meloloskan diri dari ruangannya sendiri. Beruntung, dalam kondisi cidera dia ditemukan oleh seorang pemberontak yang kemudian membawanya ke sebuah masjid sebelum dibawa ke rumah sakit.

Perawat Cantik Khadafi Buka Suara

Muammar Gaddafi female-bodyguard 女警衛 | Iconic photos, African royalty, Hot  army

Di sebuah rumah di Ukraina, mata cokelat perempuan cantik itu terpaku pada tayangan televisi yang menampilkan wajah pemimpin Libya, Moammar Khadafi.

Sesekali mata itu berkaca-kaca, melihat ‘Singa Afrika’– julukan Khadafi — kini di akhir masa jayanya, terguling dan mengais-ngais perlindungan negara lain. Citra agungnya runtuh, ia kini lebih dikenal sebagai pemimpin kejam, pembantai, dan seorang pria yang hidup dalam delusi, tercerabut dari kenyataan.

Namun, apapun kata orang, gadis itu — Oksana Balinskaya melihat Khadafi dengan pandangan berbeda. Untuk diketahui, Balinskaya adalah satu dari lima perawat asal Ukraina yang bekerja untuk Khadafi.

Selama hampir dua tahun, Balinskaya bertugas mengecek tekanan darah, memonitor jantung, menusukkan jarum untuk mengambil darah Khadafi. Termasuk dalam tugasnya adalah memberi vitamin dan pil jika diktator Libya itu sakit. Meskipun jarang. Kata dia, pasiennya itu adalah pria sehat.

Balinskaya mengaku punya panggilan sayang untuk Khadafi, ‘Daddy’ alias ‘Bapak’. Semua perawat asal Ukrania memanggilnya seperti itu. ‘Daddy’ adalah nama panggilan bagi sesama perawat. “Daddy memberi kami pekerjaan, uang, dan kehidupan yang baik,” kata dia seperti dimuat CNN.

Perempuan 25 tahun itu mengaku sedih jika Khadafi terbunuh atau ditangkap. “Khadafi sangat perhatian pada kami,” kata Balinskaya. “Dia akan bertanya, apakah kami senang, dan apakah kami mendapat semua yang dibutuhkan.”

Tiap bulan September – peringatan naik tampuk kekuasaan –  Khadafi selalu memberi suvenir para para perawat  Ukraina dan orang-orang di lingkaran dalam. Balinskaya mengaku menerima medali dan jam dengan gambar wajah sang penguasa.

Bergantian dengan perawat lain, Balinskaya juga ikut dalam perjalanan dinas ke luar negeri Khadafi — yang memicu desas-desus Khadafi selalu membawa serta harem-nya ke manapun ia pergi.

Dilarang Memakai Lipstik

Interesting facts about colonel Gaddafi and his virgin female bodyguards |  National News – India TV

Bagaimana Balinskaya bisa menjadi perawat pribadi penguasa Libya? Ia mengisahkan, suatu hari di Bulan Oktober 2009, Khadafi mengunjungi Ukraina. Kala itu Balinskaya baru lulus dari sekolah perawat. Dibayar US$125 per bulan.

Tahu ada peluang bagus di Libya, ia pun melamar. Sebuah pertemuan diatur Khadafi dan enam kandidat perawat, Balinskaya salah satunya. Ia yang sedikit tahu soal Khadafi mengaku gugup saat pertemuan pertama. Apalagi, saingannya berat. Tiga dari enam kandidat pernah  bekerja di Libya dan tahu bahasa Arab.

Tapi toh, Balinskaya lolos juga.”Saya tidak tahu mengapa dia memilih saya. Mungkin dia seorang psikolog yang baik,” katanya. Balinskaya percaya, Khadafi bisa membaca kepribadian orang dari jabat tangan dan tatapan mata.

Selama menjadi perawat, mereka dikenakan aturan ketat: tak bolah memakai riasan mencolok atau pakaian terbuka. “Penampilan kami sangat sederhana sehingga tidak menarik perhatian siapa pun,” kata dia. “Kami tidak pernah mengenakan lipstik saat pergi ke rumahnya. Juga tidak memakai pakaian dengan warna terang.”

Saat bertemu dengan perawat, tambah Balinskaya, Khadafi selalu dikelilingi istri, anak-anak, cucu, dan pejabat di lingkaran  dalamnya. “”Tak satu pun dari kami yang pernah bertemu empat mata dengan dia. Tak pernah ditinggal sendirian dengan Khadafi.”

Balinskaya mengaku terkejut saat beredar gosip Kadhafi memiliki hubungan seksual dengan perawat veteran  asal Ukraina, Galina Kolonitskaya (38 tahun), yang bekerja hampir satu dekade.

Sebuah kawat diplomatik AS yang dibocorkan WikiLeaks bahkan menyebut Kolonitskaya sebagai “si pirang  menggairahkan” yang “tahu rutinitasnya Khadafi”. Dikatakan diktator Libya sangat terikat pada perawat seksi itu.

“Galina adalah perawat, seperti   kami semua,” kata Balinskaya. “Dia memang seorang wanita glamor, tapi sangat baik dan punya hati yang besar. Dia banyak membantu saya.”

Ia mengaku tak tahu siapa yang menciptakan citra perawat da pengawal perawan Khadafi sebagai pemuas nafsu sang penguasa. “Bagaimana orang dengan pikiran waras bisa menganggap bahwa kami punya  hubungan intim dengan Kadhafi?”