Napoleon Bonaparte dilahirkan di kota Ajaccio,pulau Corsica pada tanggal 15 Agustus 1769, Ia mempunyai peranan yang cukup besar dalam Revolusi Perancis. Namanya sudah tidak asing lagi untuk kita dengar. Napoleon menjadi tokoh yang sangat dikagumi rakyat Perancis. ia banyak memperoleh kemenangan dalam setiap peperangan.

Akibat ambisinya yang begitu besar untuk menjadi penguasa Eropa, akhirnya ia mendapat kekalalahan yaitu dalam perang koalisi VI tahun 1814 Napoleon mesti telah di kalahkan, tetapi berkat dukungan rakyat Perancis ia berhasil merebut tahta kembali walaupun hanya berlangsung selama seratus hari, ia kembali dikalahkan dalam perang Koalisi VII Lalu diasingkan di St Helena hingga meninggalnya di sana tahun 1821.

Keluarga Bonaparte adalah keluarga bangsawan yang berasal dari Italia, yang bertukar ke Korsika di zaman ke-16 Ayahnya, Nobile Carlo Bounaparte, seorang pengacara, pernah menjadi perwakilan korsika kala Louis XVI berkuasa di tahun 1777. Ibunya bernama Maria Letizia Ramolino. Ia memiliki seorang kakak, Joseph; dan 5 kerabat yang lebih muda, adalah Lucien, Elisa, Louis, Pauline, Caroline, dan Jérôme. Napoleon di baptis untuk katolik beberapa hari sebelum ulang tahunnya yang kedua, akuratnya tanggal 21 Juli 1771 di Katerdal Ajaccio.

Kebangsawanan, kekayaan, serta koneksi keluarganya yang luas memberikan Napoleon kesempatan yang luas kepada berlatih hingga ke jenjang yang tinggi. Pada bulan Januari 1779, Napoleon didaftarkan pada sebuah sekolah agama di Autun, Perancis, kepada berlatih bahasa Perancis, dan pada bulan Mei ia mendaftar di sebuah akademi militer di Brienne-le-Château.

Di sekolah, ia berkata dengan logat Korsika yang kental sehingga ia sering dicemooh teman-temannya; memaksanya kepada berlatih. Napoleon pandai matematika, dan cukup memahami pelajaran sejarah dan geografi. Sesudah menghabiskan babak edukasinya di Brienne pada 1784, Napoleon mendaftar di sekolah elit École Militaire di Paris.

Di sana ia dilatih menjadi seorang perwira artileri. Ketika bersekolah di sana, ayahnya meninggal. Ia pun dipaksa menghabiskan sekolah yang normalnya memakan saat dua tahun itu menjadi satu tahun. Ia diuji oleh ilmuwan terkenal Pierre-Simon Laplace, yang di kemudian hari dipilih oleh Napoleon kepada menjadi anggota senat.

Cinta Napoleon dengan Josephine

5 Fakta Joséphine de Beauharnais, Janda Napoleon Bonaparte

Sejarah mencatat sosok Napoleon merupakan ahli strategi militer terbaik sepanjang sejarah. Dikutip dari berbagai sumber, karir militer Napoleon melejit setelah ia berhasil menembakkan meriam di kota Paris dari atas menara tuk menumpas kerusuhan yang digaungi para pendukung royalis. Kabarnya, saat itu Napoleon baru berusia 26 tahun.

Ditengah kesuksesannya menjadi perwira muda, Napoleon bertemu seorang janda beranak dua yang baru keluar dari penjara, Marie Josephe Rose Tascher de La Pagerie. Dikutip dari History Today, Napoleon terpaut usia enam tahun lebih muda dari Rose.

Pesona Rose yang cantik dan menarik membuat Napoleon terpikat olehnya. Napoleon memutuskan untuk mendekati Rose dan akhirnya mempersuntingnya dan mengganti nama panggila Rose menjadi Josephine, hanya karena sang perwira tak suka dengan namanya.

Napoleon memang tergila-gila dengan Josephine. Akan tetapi, sang istri nampaknya acuh dengan dirinya. Setelah pernikahannya, Napoleon pergi untuk memimpin Angkatan Darat Italia. Saat itu, Napoleon kerap mengirimi surat cinta untuk Josephine. Namun sang istri tak membalasnya.

Bahtera rumah tangga mereka mulai retak, ketika Napoleon tengah bertugas di Mesir. Saat itu, Josephine mulai bermain mata dengan perwira lain. Napoleon pin mengetahui hal itu dan marah besar. Ia pun mulai mengancam tuk menceraikan Josephine.

Tak sampai disitu, melihat pengkhianatan sang istri, Napoleon ikut menyelingkuhinya. Diketahui, Napoleon juga memiliki cinta terlarang dengan gadis Polandia.

Kian hari, pernikahan dua insan ini makin memburuk. Ditambah sebuah fakta bahwa Josephine tak bisa memberikan keturunan untuk Napoleon. Pada akhirnya, tahun 1810 Napoleon dan Josephine memutuskan untuk bercerai.

Setelah perceraiannya, Napoleon dan Josephine mulai kembali ke kehidupan mereka masing-masing. Napoleon kemudian menikahi Marie Luise, cucu dari Franz I Austria, dan dikaruniai seorang putra.

Sedangkan Josephine, ia kembali ke kampung halamannya di Malmaison, diluar Prancis.

Meski kisahnya dengan Josephine telah berakhir, Napoleon tetap menjadikan Josephine wanita yang paling ia cintai. Konon, saat ia menghembuskan nafas terakhirnya di St. Helena, nama ‘Josephine’ lah yang ia sebut.

Tidak Malam Ini, Josephine

Napoleon Bonaparte (1769-1821) and Empress Joséphine de Beauharnais Stock  Photo - Alamy

Selama ini, panglima perang Prancis yang paling terkenal, Napoleon Bonaparte, digambarkan sebagai pria yang gagah di medan laga tapi lembek di atas kasur. Ketidakjantannya di atas ranjang melahirkan frasa yang sangat terkenal, “Tidak malam ini, Josephine.”

Tapi realitas hubungan pria yang kemudian dinobarkan sebagai kaisar dengan istrinya, Josephine de Beauharnais, benar-benar berbeda dari yang diyakini banyak orang. Setidaknya, inilah yang diungkap dalam serial dokumenter terbaru yang dilansir Edisi Bonanza88 dari stasiun televisi BBC.

Napoleon, tergambar dari surat-suratnya, sangat ‘rentan’ dan haus belaian kekasih. Dia bak ‘anak anjing’ yang tergila-gila untuk bercinta dan jauh lebih ‘buas’ dari Josephine untuk urusan ranjang.

Tiga bagian dari serial dokumenter ini ditulis dan disajikan oleh sejarawan Andrew Roberts setelah mempelajari surat-menyurat pasangan ini. Ia percaya Napoleon haus kasih sayang dari wanita yang justru bosan dengan gairah bercinta ala remaja Napoleon dan lebih suka mencari hiburan dalam pelukan laki-laki lain.

“Napoleon sering dituduh sebagai monster dan megalomaniak (orang yang terobsesi dengan kekuatannya sendiri). Tapi membaca surat-suratnya kepada Josephine, yang terjadi adalah sebaliknya,” kata Roberts.

Napoleon rajin mengirimi Josephine surat dari medan laga. “Bahkan, ia pernah menulis surat cinta sehari tiga kali, mempertanyakan apakah Josephine mencintainya atau dia setia, atau apakah dia cukup menarik baginya. Surat-suratnya menggambarkan dia orang yang sedang dimabuk cinta,” katanya.

Napoleon dan Josephine – yang enam tahun lebih tua darinya – menikah Maret 1796, enam bulan setelah mereka bertemu. Josephine, yang sudah menikah sebelumnya, pernah berhubungan dengan beberapa tokoh terkemuka Prancis. Sebaliknya, hanya ada sedikit wanita dalam kehidupan Napoleon.

Roberts mengatakan surat cinta kaisar itu mengungkapkan dia adalah pria yang ‘sangat, sangat percaya diri’ dengan perempuan. Pada tanggal 3 April tahun 1796, ia menulis: “Tanpa kepastian cintamu seperti siksaan neraka.”

Saat memimpin pertempuran di Italia, hampir tiap hari ia berkirim surat. Tapi sebagian besar surat-surat itu diabaikan oleh Josephine, yang mulai berselingkuh beberapa hari setelah keberangkatan suaminya. Mengabaikan perselingkuhan istrinya, Napoleon secara putus asa menulis: ‘Apakah dia melupakan aku? Atau apakah dia tahu ada siksaan yang lebih besar daripada tidak mendapatkan surat dari dolce amore-ku?”

Napoleon, dinobatkan Kaisar pada 1804, bercerai Josephine pada tahun 1809 ketika wanita itu tidak mampu memberinya ahli waris. Asal-usul frasa ‘Tidak malam ini, Josephine’ tidak diketahui sumbernya tetapi beberapa sejarawan percaya itu adalah karangan musuh-musuh Napoleon untuk meragukan kejantanannya.

Surat Cinta Napoleon

Love Letters: Celebrity Edition | Love letters, Napoleon, Lettering

Meski demikian, Bonaparte juga dikenal benar-benar kejam, seorang diktator yang tak menoleransi kesalahan sekecil apapun. Tapi, di samping semua catatan impresif perjalanan kekuasaannya, Napoleon memiliki sisi romantis yang tak kalah dari pujangga-pujangga terkenal.

Ini misalnya terlihat dari kutipan surat pertama Napoleon untuk seorang perempuan bernama Josephine –yang kemudian menjadi istrinya. Surat itu ditulis pada 29 Desember 1795.

Aku terbangun dipenuhi pikiran tentangmu. Potretmu dan kesenangan yang memabukkan tadi malam, membuat perasaanku tak bisa beristirahat.

Josephine yang manis tiada banding, betapa aneh ulahmu terhadap hatiku. Apakah kau marah kepadaku? Apa kau tidak senang? Apa kau kecewa?

Jiwaku hancur oleh nestapa, dan cintaku untukmu tak kan pernah surut. Bagaimana aku mampu beristirahat, saat aku tunduk pada perasaan yang mengendalikan jiwa terdalam, saat aku  mereguk dalam-dalam dari rekah bibirmu dan nyala api hatimu?

Ya! Satu malam mengajarkanku bagaimana potretmu tak mampu melukiskan sempurnamu!

Kau memulai di tengah hari: nanti tiga jam aku akan melihatmu lagi. Hingga saat itu tiba, lewat ribuan kecupan, cintaku manisku, jangan kau kecewakan darahku yang terbakar hanya untukmu!

Napoleon dan Josephine kemudian menikah pada 9 Maret 1796. Mereka kerap terpisah berjauhan karena Napoleon bertugas dalam misi penaklukan negara-negara Eropa.

Pernah saat Napoleon sedang berada di Italia dan tak menerima kabar apapun dari sang istri, dia mencurahkan rindu lewat lembaran-lembaran perkamen.

Dalam perkamen yang juga surat itu, Napoleon menulis, “Suratmu adalah kebahagiaan untuk hari-hariku.”

Sayangnya, kisah cinta ini tak berakhir “bahagia selamanya” seperti kerap terjadi dalam dongeng. Napoleon dan Josephine bercerai karena Josephine tak bisa memberikan anak sebagai penerus takhta kekaisaran Napoleon.

Meski begitu, Napoleon tak bisa melupakan Josephine hingga akhir hayat. Menurut kabar yang beredar, kata terkahir yang diucapkan Napoleon sebelum meninggal adalah “Bagiku Perancis, pasukan, Panglima, dan Josephine.”

Ia telah menulis sebanyak 75,000 lembar selama hidupnya. Di antaranya dikirimkan kepada istri yang cantiknya, Josephine, sebelum dan selama pernikahan mereka. Surat berikut ini ditulis tahun 1796 tepat sebelum perkawinan mereka. Surat ini menunjukkan kelembutan dan emosi dari seorang kaisar masa depan.

Surat ke-1

Paris, Desember 1795

Aku bangun dalam keadaam memikirkan kamu. Fotomu dan sore yang memabukkan itu dimana kita menghabiskan waktu bersama dan sekarang tinggallah perasaanku yang kacau-balau. Josephine manisku, yang tidak dapat dibandingkan dengan apa pun, yang berpengaruh aneh terhadap hatiku! Apakah kamu marah padaku? Apakah benar yang kulihat ini bahwa engkau bersedih hati?

Apakah engkau khawatir? Jiwaku tersiksa oleh kesedihan yang mendalam yang tak pernah bisa beristirahat untukmu sayang. Tetapi masih adakah kau simpan untukku penyerahan dirimu akan perasaan yang dalam terhadapku. Masihkah kan ku dapatkan dari bibirmu, dari hatimu, cinta yang membakarku seperti api? Ah! Malam itu aku menyadari sepenuhnya betapa salahnya aku menggambarkan tentang kamu dari foto yang kau berikan kepadaku!

Kamu meninggalkanku siang itu; Aku hanya melihatmu selama tiga jam.

Sampai kemudian, mio dolce amor, seribu ciuman; tetapi jangan berikan padaku lagi, karena ciuman itu telah menjadikan darahku terbakar.

Surat ke -2

Musim Semi, 1797

Kepada Josephine,

Aku sudah tidak mencintaimu lagi; sebaliknya, aku membencimu. Kamu sungguh celaka dan suka melawan, sungguh dungu, benar-benar seperti Cinderella. Kamu tidak pernah sama sekali menulis surat untukku, Kamu tidak mencintai suamimu ini; Kamu tahu surat-surat mu akan menyenangkanku, tapi kenapa kamu tidak bisa menyediakan waktu untuk menulisnya walau setengahnya saja, tulislah dengan cepat dan segera!

Apa yang kamu Anda lakukan sepanjang hari, Nyonya? Urusan apa yang lebih penting sehingga menyita waktumu sampai tidak ada sedikitpun untuk menulis balasan surat kepada kekasihmu yang setia ini? Apa ada yang lain yang bisa menepis kasih dan menawarkan lebih dibanding kasih setia yang sudah kujanjikan? Siapa kekasih baru yang luar biasa ini, yang telah merampas setiap detikmu, mengekangmu hari-harimu dan mencegah perhatianmu kepada suamimu ini?

Hati-hati, Josephine; satu malam yang tepat pintu-pintu rumah akan hancur berkeping-keping dan aku hadir di sana. Sesungguhnya aku merasa cemas, kasihku, karena tidak ada kabar darimu. Tuliskan untukku empat halaman surat sekaligus sesegera mungkin dengan kata-kata yang menyenangkan untuk mengisi hatiku dengan emosi dan kegembiraan. Aku berharap untuk memelukmu dalam waktu yang lama, dan aku akan mencurahkan sejuta ciuman untukmu, membakar seperti matahari di Katulistiwa.

Surat ke-3

Salah satu surat yang paling langka dan menyentuh dari koleksi itu adalah surat cinta membara yang ditulis Napoleon kepada calon istrinya, Josephine, pada pagi hari setelah mereka bertengkar hebat. Asli surat ini laku 557 ribu dollar AS ( Rp.5 M) pada lelang di London.

“Saya mengirimkan kepadamu tiga ciuman. Satu pada hatimu, satu pada mulutmu dan satunya lagi untuk matamu,” Tulis Napoleon, dalam surat yang penuh koreksian dan coretan itu.