Luhut Binsar Panjaitan selaku Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Indonesia pernah membuat pernyataan mengejutkan. Luhut mengutarakan jika Indonesia harus punya bom nuklir agar tak lagi disepelekan dunia.

Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam acara ‘Soft Launching Agriculture War Room (AWR)’ di Gedung Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan

“Kita tidak dianggap (karena tidak punya senjata nuklir),” kata Luhut dilansir Edisi Bonanza88 dari sejumlah sumber. Luhut menambahkan sebenarnya negeri ini memiliki potensi untuk membangun sistem pertahanan canggih termasuk Nuklir.

“(Saat itu) saya ingin bilang, ‘you know what? Negara kami punya semua’,” tegas Luhut. Bahkan keinginan Luhut itu sudah disampaikan kepada Presiden Joko Widodo.

“Saya juga sebagai jenderal sudah terpikir itu, pengin juga (Indonesia) punya nuclear power,” kata Luhut. Nyatanya jauh sebelum keinginan Luhut ini terucap, Indonesia hampir pernah menguji coba bom Atom ciptaannya dan buat dunia merinding.

Awalnya pada tahun 1960, presiden pertama Indonesia, Soekarno sadar jika sebuah negara haruslah mempunyai kapabilitas dalam pengayaan uranium. Maka pada tahun itu juga ia berhasil menjalin kerjasama dengan AS untuk pengembangan nuklir.

AS setuju membantu dalam hal pengayaan uranium, karena awalnya Indonesia hanya ingin menggunakan nuklirnya demi tujuan damai. Tapi ditengah jalan kerjasama itu terganggu lantaran matinya John F Kennedy yang dikenal akrab dengan Soekarno.

Kebijakan AS setelah tewasnya Kennedy berubah, termasuk menyoal pengayaan uranium Indonesia. Soekarno geram, ia kemudian mengalihkan haluan tujuan nuklir Indonesia untuk dijadikan bom atom!

Secara rahasia, Soekarno kemudian menyuruh para ilmuwan Lembaga Tenaga Atom (LTA) Indonesia berguru ke China karena negeri Tirai Bambu itu berhasil mengujicoba bom nuklirnya tahun 1964. Hingga tiba saatnya November 1964.

Direktur Pengadaan Senjata Angkatan Darat, Brigjen Hartono mengumumkan Indonesia akan melakukan uji coba peledakkan bom nuklir miliknya pada tahun 1969 mendatang.

Hartono mengungkapkan jika 200 ilmuwan Indonesia sedang mengerjakan pembuatan bom nuklir dan bakal di uji coba di luar kepulauan Mentawai, Sumatera.

Dikutip dari nonproliferation.org, pengumuman itu kemudian dilanjutkan dengan pernyataan Soekarno pada tahun 1965 yang mengatakan “Sudah takdir Tuhan, Indonesia dapat membuat bom atomnya sendiri.”

Soekarno menambahkan jika Indonesia membutuhkan bom nuklir untuk menjaga kedaulatan dan tanah air dari gangguan negara lain. Pernyataan itu membuat negara-negara di dunia terhenyak seketika.

Dunia menjadi ‘panas dingin’, geger karena mengetahui hal itu. Apalagi negara-negara Barat dan sekutunya. Dalam benak mereka bergumam bagaimana bisa Indonesia negara yang merdeka kemarin sore sudah mampu membuat bom nuklir yang maha dahsyat itu.

Menteri Pertahanan Australia saat itu, Shane Paltridge berujar jika pernyataan Brigjen Hartono tak boleh dianggap enteng dan sepele. Yang lebih pusing lagi tentunya Perdana Menteri Malaysia Tun Abdul Razak.

Ia merasa gelisah, terancam dan ketakutan karena bisa saja uji coba ledakkan nuklir Indonesia nanti dapat berdampak mengerikan bagi Malaysia. AS yang tak mau uji coba itu dilakukan langsung mendekati kembali Indonesia.

Melalu macam manuver politik, AS kemudian mendapat kesimpulannya sendiri jika Indonesia belum mampu untuk memproduksi bom nuklirnya sendiri. Melihat celah itu maka pada September 1965, AS mau melanjutkan kerjasama pengayaan uraniumnya kembali dengan Indonesia.Tapi dengan catatan, Indonesia harus mengizinkan jika badan atom internasional (IAEA) menginspeksi reaktor nuklirnya.

Hal itu bertujuan agar Indonesia tak jadi berusaha membuat bom nuklir. Namun berakhirnya kekuasaan Soekarno karena G30S/PKI tahun 1965 membuat semuanya buyar.

Suksesi kekuasaan pada Soeharto membuat program bom nuklir Indonesia mandek karena rezim Orde Baru sama sekali tak tertarik membuat nuklir menjadi senjata. Akan tetapi di era Soeharto, nuklir Indonesia digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan, agrikultura dan pembangunan ekonomi negara.

Manuver Soekarno Ingin Buat Bom Atom

Benarkah Soekarno Pernah Perintahkan Membuat Bom Nuklir di Indonesia? Ini  Kronologi yang Beredar - Surya

“Insya Allah dalam waktu dekat ini kita akan berhasil membuat bom atom sendiri.”

Pernyataan itu meluncur dari mulut Presiden Sukarno saat memberikan pidato dalam acara Muktamar Muhammadiyah ke-36 yang diadakan di Bandung pada 24 Juli 1965.

Untuk pertama kalinya, Sukarno menunjukan dukungan terhadap rencana pengembangan senjata nuklir yang santer telah dibicarakan di lingkaran militer selama delapan bulan sebelumnya.

Pada saat bersamaan, pemerintah sedang sibuk oleh kampanye anti-penjajahan laten Nekolim (Neokolonialisme, Kolonialisme, dan Imperialisme) sebagai dampak konfrontasi Indonesia-Malaysia pada 1962. Sukarno barangkali menganggap perjuangan bangsa melawan pengaruh asing akan lebih mudah jika mereka didukung senjata nuklir.

“Bom atom itu bukan akan kita gunakan untuk mengagresi bangsa atau negara lain tetapi sekedar untuk menjaga kedaulatan tanah air kita dari gangguan-gangguan tangan jahil. Bila kita diganggu, maka seluruh rakyat Indonesia akan maju ke depan dan menggerakan seluruh senjata yang ada pada kita,” lanjut Sukarno dalam pidatonya.

Pernyataan Sukarno sangat bertolak belakang dengan penyataan resmi yang diutarakan oleh Menteri Luar Negeri Soebandrio tujuh tahun sebelumnya. Di tahun 1958, Subandrio menuliskan dalam Pengaruh Tenaga Atom atau Tenaga Nuklir dalam Hubungan antar Negara (1958) bahwa Indonesia sama sekali tidak tertarik memiliki atau pun membuat senjata nuklir.

Kegagalan Nuklir untuk Perdamaian

Di Dunia saat Ini Ada 1.500 Bom Nuklir, Padahal untuk Hancurkan Bumi Cukup  100 Bom Saja - Tribun Kaltim

Pada 1958, Indonesia baru saja membentuk Lembaga Tenaga Atom (LTA). Lembaga yang ditujukan untuk meneliti dan mengembangkan energi nuklir ini merupakan kelanjutan dari Komite Nasional Tenaga Atom yang dibentuk pada 1954.

Komite tersebut bertugas menyelidiki kadar radioaktivitas di wilayah Indonesia timur sebagai antisipasi dampak percobaan ledakan bom termonuklir yang dilakukan Amerika Serikat di Samudera Pasifik.

LTA pada dasarnya memiliki tugas yang lebih luas dibandingkan komite nasional. Melalui lembaga baru ini, Sukarno berharap Indonesia dapat mengejar ketertinggalan di bidang teknologi nuklir. Untuk itu, dia setuju mengikutsertakan LTA ke dalam program Atoms for Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat, Eisenhower, pada 1953.

Robert M. Cornejo dalam tesis masternya yang berjudul When Sukarno Sought the Bomb: Indonesian Nuclear Aspirations in the mid-1960s (1999, PDF) mencatat kerjasama Indonesia-Amerika itu bermula pada Juni 1960. Kedua negara sepakat menandatangani perjanjian bilateral yang diikuti dengan pemberian dana bantuan sebesar 350 ribu dolar untuk membangun sebuah reaktor nuklir pertama bernama Triga Mark II di Bandung.

“Tujuan program ini adalah untuk mencegah pembiakan senjata nuklir dengan mengalihkan perhatian internasional dari pengembangan senjata ke arah penggunaan energi nuklir secara damai,” tulis Cornejo.

Selain mendapat bantuan keuangan dan teknis dari Amerika, Indonesia juga dikabarkan mendapat tidak kurang dari 5 juta dolar dari Uni Soviet. Menurut Iwan Kurniawan dalam Pembangunan PLTN: Demi Kemajuan Peradaban? (1996, hlm. 201) dana dari Kremlin itu datang satu tahun lebih awal daripada dana Atoms for Peace. Intervensi Soviet di bidang teknologi nuklir memaksa Amerika semakin gencar mengikat Indonesia menggunakan bermacam-macam perjanjian nuklir.

Persepsi tentang senjata nuklir di Indonesia ikut berubah setelah Cina melanggar Perjanjian Larangan Senjata Nuklir dengan melakukan uji coba ledakan bom atom pertamanya pada 16 Oktober 1964. Alih-alih menarik kemarahan di kalangan pejabat tinggi negara, hasil percobaan itu malah membuat mereka takjub seraya mengucapkan selamat melalui Duta Besar Republik Rakyat Cina di Jakarta.

“Bom atom bisa memiliki sifat agresif jika dipegang oleh negara agresif yang kapitalis, sebaliknya tidak demikian jika dipegang oleh negara sosialis,” kata Roeslan Abdulgani yang kala itu menjabat Menteri Penerangan seperti dikutip Cornejo.

Menanti Bom Kiriman dari Cina

Proyek Rahasia Senjata Nuklir Soekarno - Berguru ke China Setelah Uji Bom  Atom dan Gagal karena PKI | KURIO

Hanya berselang satu bulan setelah uji coba bom atom oleh Cina, Direktur Persenjataan Angkatan Darat Jenderal Hartono, mengusulkan agar pemerintah mempersenjatai angkatan militer dalam negeri dengan senjata nuklir. Hartono mempublikasikan usulannya ini melalui kantor berita Antara pada pertengahan November 1964.

Permasalahan nuklir di Indonesia tiba-tiba berjalan ke arah yang lebih politis setelah pernyataan Hartono mendapat rambu hijau dari Presiden Sukarno. Melalui Undang-Undang No.31 Tahun 1964 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Tenaga Atom, Sukarno mengesahkan peraturan yang mendukung penggunaan nuklir dalam usaha menyelesaikan revolusi nasional.

Pada Maret 1965, Sukarno merasa perlu memperluas pengaruh LTA dengan cara meningkatkan statusnya menjadi organisasi pemerintah. Masih di bulan yang sama, LTA berubah nama menjadi Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN), sementara direktur utama LTA, Gerrit A. Siwabessy, diangkat menjadi Menteri Badan Tenaga Atom Nasional.

Setelahnya, Sukarno semakin percaya diri mengutarakan pidato di bulan Juli yang berisi dukungan terhadap rencana pembuatan bom atom. Pidatonya ini diikuti oleh laporan surat kabar Angkatan Bersenjata edisi 28 Juli 1965 yang dengan percaya diri menyebut bahwa uji coba peledakan bom atom pemerintah Indonesia akan dilaksanakan usai Konferensi Asia-Afrika yang dijadwalkan akan diadakan di Aljazair pada bulan Oktober.

Retorika bom atom di Jakarta semakin dibuat panas dengan munculnya kubu oposisi yang meragukan keabsahan ambisi nuklir Sukarno. Jurnalis Rosihan Anwar dalam Sukarno, Tentara, PKI: Segitiga Kekuasaan sebelum Prahara Politik 1961-1965 (2006, hlm. 358) menuliskan bahwa publik masih meragukan kemampuan Indonesia membuat bom atom sendiri seperti yang dibesar-besarkan oleh Sukarno.

Kendati banyak yang menganggap rencana tersebut sekedar propaganda, Amerika Serikat bersikap waspada. Negera adikuasa itu menduga Sukarno akan mencari solusi bom atom melalui pihak ketiga, yaitu Cina.

Menurut analisis Cornejo, uji coba nuklir oleh Cina sengaja dipublikasikan besar-besaran untuk menggiring revolusi yang tengah terjadi di berbagai negara berkembang di Asia, termasuk Indonesia. Di saat bersamaan, Sukarno juga sedang terperangkap dalam ketegangan antara Angkatan Darat dengan PKI. Maka untuk mengamankan kekuasaannya, Sukarno berusaha mendapatkan dukungan rakyat melalui program nuklir pemerintah Cina.

Keberhasilan pembentukan poros Peking-Jakarta pada Januari 1965 secara tidak langsung mengarahkan pada pembicaraan seputar rencana rahasia kiriman bom atom dari Cina. Cornejo mengutip sebuah telegram dari Kantor Duta Besar Amerika di Jakarta yang mencurigai bahwa “Chicoms [Cina komunis] akan meledakkan bom atomnya di wilayah Indonesia.”

Dalam Kudeta 1 Oktober 1965: Sebuah Studi tentang Konspirasi, ahli politik dan sejarah Asia asal Ceko, Victor Miroslav Fic, mencatat sebuah pertemuan antara Presiden Sukarno dengan Marsekal Chen Yi di Jakarta pada bulan November dan Desember 1964. Dalam pertemuan itu disebutkan Sukarno berkeras agar Cina bersedia memasok bom atom yang akan diklaim sebagai uji coba pemerintah RI.

Usaha Sukarno tidak berbuah hasil karena Cina–seperti yang juga diutarakan oleh Cornejo–justru mengharapkan Indonesia membuat sendiri bom atomnya. Pada akhirnya rencana pengembangan senjata nuklir yang diidamkan Sukarno dikabarkan macet dan hanya berhasil mengumpulkan sebuah tim kecil yang bekerja secara rahasia.

Pada 1 Oktober 1965, cita-cita nuklir Sukarno tiba-tiba rontok. Pembunuhan enam anggota senior militer dan seorang komandan yang menurut narasi sejarah populer didalangi oleh PKI memicu huru-hara dan pembantaian besar-besaran. Hanya kurang dari enam bulan setelahnya, Sukarno sudah benar-benar tenggelam bersama rencananya membuat senjata nuklir.

Tipe senjata nuklir

Contoh Makalah: Tipe Senjata Nuklir

Senjata nuklir mempunyai dua tipe dasar. Tipe pertama menghasilkan energi ledakannya hanya dari proses reaksi fisi. Senjata tipe ini secara umum dinamai bom atom (atomic bomb, A-bombs). Energinya hanya diproduksi dari inti atom.

Pada senjata tipe fisi, masa fissile material (uranium yang diperkaya atau plutonium) dirancang mencapai supercritical mass – jumlah massa yang diperlukan untuk membentuk reaksi rantai- dengan menabrakkan sebutir bahan sub-critical terhadap butiran lainnya (metode gun), atau dengan memampatkan bulatan bahan sub-critical menggunakan bahan peledak kimia sehingga mencapai tingkat kepadatan beberapa kali lipat dari nilai semula. Metode implosion, metode yang kedua dianggap lebih canggih dibandingkan yang pertama. Dan juga penggunaan plutonium sebagai bahan fisil hanya bisa di metode kedua.

Tantangan utama di semua desain senjata nuklir adalah untuk memastikan sebanyak mungkin bahan bakar fisi terkonsumsi sebelum senjata itu hancur. Jumlah energi yang dilepaskan oleh pembelahan bom dapat berkisar dari sekitar satu ton TNT ke sekitar 500.000 ton (500 kilotons) dari TNT.

Tipe kedua memproduksi sebagian besar energinya melalui reaksi fusi nuklir. Senjata jenis ini disebut senjata termonuklir atau bom hidrogen (disingkat sebagai bom-H), karena tipe ini didasari proses fusi nuklir yang menggabungkan isotop-isotop hidrogen (deuterium dan tritium). Meski, semua senjata tipe ini mendapatkan kebanyakan energinya dari proses fisi (termasuk fisi yang dihasilkan karena induksi neutron dari hasil reaksi fusi.) Tidak seperti tipe senjata fisi, senjata fusi tidak memiliki batasan besarnya energi yang dapat dihasilkan dari sebuah sejata termonuklir.

Senjata termonuklir bisa berfungsi dengan melalui sebuah bomb fisi yang kemudian memampatkan dan memanasi bahan fisi. Pada desain Teller-Ulam, yang mencakup semua senjata termonuklir multi megaton, metode ini dicapai dengan meletakkan sebuah bomb fisi dan bahan bakar fusi (deuterium atau lithium deuteride) pada jarak berdekatan di dalam sebuah wadah khusus yang dapat memantulkan radiasi.

Setelah bomb fisi didetonasi, pancaran sinar gamma dan sinar X yang dihasilkan memampatkan bahan fusi, yang kemudian memanasinya ke suhu termonuklir. Reaksi fusi yang dihasilkan, selanjutnya memproduksi neutron berkecepatan tinggi yang sangat banyak, yang kemudian menimbulkan pembelahan nuklir pada bahan yang biasanya tidak rawan pembelahan, sebagai contoh depleted uranium. Setiap komponen pada design ini disebut stage (atau tahap). Tahap pertama pembelahan atom bom adalah primer dan fusi wadah kapsul adalah tahap sekunder.

Di dalam bom-bom hidrogen besar, kira-kira separuh dari yield dan sebagian besar nuklir fallout, berasal pada tahapan fisi depleted uranium. Dengan merangkai beberapa tahap-tahap yang berisi bahan bakar fusi yang lebih besar dari tahap sebelumnya, senjata termonuklir bisa mencapai yield tak terbatas. Senjata terbesar yang pernah diledakan (the Tsar Bomba dari USSR) merilis energi setara lebih dari 50 juta ton (50 megaton) TNT. Hampir semua senjata termonuklir adalah lebih kecil dibandingkan senjata tersebut, terutama karena kendala praktis seperti perlunya ukuran sekecil ruang dan batasan berat yang bisa didapatkan pada ujung kepala roket dan misil.

Ada juga tipe senjata nuklir lain, sebagai contoh boosted fission weapon, yang merupakan senjata fisi yang memperbesar yield-nya dengan sedikit menggunakan reaksi fisi. Tetapi fisi ini bukan berasal dari bom fusi. Pada tipe boosted bom, neutron-neutron yang dihasilkan oleh reaksi fusi terutama berfungsi untuk meningkatkan efisiensi bomb fisi. contoh senjata didesain untuk keperluan khusus; bomb neutron adalah senjata termonuklir yang menghasilkan ledakan relatif kecil, tetapi dengan jumlah radiasi neutron yang banyak.

Meledaknya senjata nuklir ini diikuti dengan pancaran radiasi neutron. Senjata jenis ini, secara teori bisa digunakan untuk membawa korban yang tinggi tanpa menghancurkan infrastruktur dan hanya membuat fallout yang kecil. Membubuhi senjata nuklir dengan bahan tertentu (sebagain contoh kobalt atau emas) menghasilkan senjata yang dinamai salted bomb. Senjata jenis ini menghasilkan kontaminasi radioaktif yang sangat tinggi. Sebagian besar variasi di disain senjata nuklir terletak pada beda yield'” untuk berbagai keperluan, dan untuk mencapai ukuran fisik yang sekecil mungkin.