Perancis dikenal sebagai negara yang indah. Kota-kotanya romantis. Budayanya megah dan bergengsi. Anggapan lain yang tak kalah populer: orang-orangnya jago merangsang. Tapi apakah benar demikian?

Bangsa Prancis memiliki istilah sendiri untuk menjelaskan budaya menggoda yang mereka miliki. Mereka menamakannya, La Seduction yang berarti jenis godaan yang lebih dari sekadar daya tarik seksual. La Seduction bisa mencakup kecakapan intelektual, pesona dalam komunikasi, dan gaya hidup yang penuh kenikmatan.

Istilah ini bahkan digunakan untuk menjelaskan gaya hidup masyarakat Prancis secara luas, dari kecintaan terhadap sejarah, falsafah kehidupan, hingga manuver politik. Menurut Elaine Sciolino, penulis buku “La Seduction: How The French Play the Game of Life”, menggoda adalah keahlian dan ciri khas bangsa Perancis yang terbentuk dari sejarah panjangnya. Oleh karena itu untuk memahami segala persoalan bangsa Perancis, kita dapat melihat dari budaya menggoda yang ada di sana.

Bangsa yang Bergairah

French Kiss' Officially Recognized In France, As 'Galoche' Enters French  Dictionary | HuffPost

Salah satu istilah paling populer yang diasosiakan dengan Prancis adalah French kiss. French kiss sendiri berarti aktifitas ciuman yang menggunakan lidah. Faktanya, gaya ciuman ini tidak diciptakan oleh orang Prancis. Gaya ciuman ini justru sudah ada dari ribuan tahun yang lalu, bahkan sebelum Prancis berdiri sebagai negara.

Alasan mengapa gaya ini disebut dengan embel-embel ‘french’ bisa kita ketahui dengan melihat sejarah Perang Dunia Pertama. Pada masa perang, banyak pelancong dari Amerika dan Inggris datang ke Perancis. Pelancong ini kebanyakan merupakan tentara yang dikirim untuk menambah pasukan sekutu.

Ketika singgah di Prancis, para tentara Amerika dan Inggris sangat terkejut melihat bagaimana tentara Prancis disambut oleh para kekasihnya. Para kekasih tentara prancis ini menyambut mereka dengan ciuman menggunakan lidah dan mulut terbuka lebar. Hal ini tidak lazim bagi para tentara Amerika dan Inggris. Meskipun begiyu mereka tetap menganggap kebiasaan tersebut menakjubkan.

Akibatnya setelah mereka pulang perang, para tentara ini akan menceritakan pemandangan menakjubkan itu pada teman-teman dan bahkan kekasihnya. Ini menjadi tradisi baru di Amerika Serikat dan Inggris. Pada Perang Dunia Kedua, kekasih para tentara Amerika Serikat dan Inggris akan menghadiahkan mereka French kiss sebelum akhirnya berpisah.

Selain memiliki reputasi sebagai pemilik ciuman yang menakjubkan, orang Prancis juga punya reputasi sebagai kekasih yang hebat. Menurut Elaine, reputasi tersebut tidak dapat ditelan mentah-mentah. Jika dipandang dari budaya La Seduction, justru orang Prancis bisa dilihat sebagai kandidat kekasih yang berbahaya. Sebab mereka akan lebih tertarik dengan proses mengejarnya ketimbang mempertahankan kasihnya.

Reputasi tadi mungkin tidak keliru jika kita melihatnya dari sudut pandang seksual. Menurut data yang dihimpun Edisi Bonanza88 dari Elaine, 91% perempuan Prancis dan 83% laki-laki Prancis menganggap lingerie sebagai kebutuhan penting dalam hidup mereka. Hal ini membuktikan bahwa orang Prancis memang memiliki fantasi seksual yang lebih liar. Tentu tidak mengherankan, barang tersier seperti lingerie hanya berfungsi sebagai objek pemenuhan fantasi seksual belaka. Meskipun begitu, orang Prancis justru menganggapnya sebagai kebutuhan hidup.

Tradisi menggunakan lingerie yang umum bagi perempuan Prancis juga menciptakan fantasi tersendiri bagi masyarakat global. Istilah “French girl” bahkan menjadi kategori stereotip sendiri. “French Girl” biasa digambarkan dalam Hollywood sebagai perempuan Prancis dengan logat Prancis yang medok, memiliki kepekaan terhadap fashion, merokok, dan bersikap bodo amat. Selain itu, French girl juga kerap digambarkan tidak memiliki hubungan monogami dan sering bergonta-ganti pasangan.

Fantasi tentang French girl ini sebenarnya juga mengakar dari sejarah perjuangan perempuan di bangsa itu. Pada abad 18 hingga 19, Paris dikenal oleh dunia sebagai sebuah pusat kebudayaan.

Kota cantik itu melahirkan banyak sastrawan, seniman, filsuf, dan bahkan gerakan politik. Sebagai pusat kebudayaan, citra kota Paris saat itu tergambar jelas melalui karya-karya yang kemudia tersebar ke seluruh dunia. Salah satu penggambaran yang sering hadir tentang Paris adalah tempat-tempat berkumpul para budayawan seperti kafe atau galeri.

Pada masa itu, tempat-tempat berkumpul ini biasa dikelola oleh perempuan. Perempuan di sana tidak bekerja sebagai pramusaji, melainkan pengelola, pemilik atau bahkan tamu langganan.

Hal ini cukup mengangetkan publik global karena pada saat itu masih banyak masyarakat yang membatasi ruang-ruang perempuan. Beberapa dari perempuan di tempat-tempat ini bahkan aktif mendiskusikan atau menulis tentang keadaan politik saat itu. Akhirnya perempuan Prancis mulai dikenal dengan sebuah citra khusus yang tidak dimiliki oleh perempuan dari bangsa lain.

Citra khusus inilah yang kemudian dikapitalisasi oleh budayawan-budayawan selanjutnya. Pada masa keemasan budaya Prancis yakni beberapa dekade sebelum pecahnya Perang Dunia Pertama, citra perempuan di sana semakin diperkuat dengan adanya penambahan bumbu seksual.

Karya-karya seni maupun sastra menggambarkan perempuan Prancis dari sudut pandang seks. Mereka digambarkan sebagai perempuan-perempuan petualang, yang mau bereksperimen di ranjang, menolak untuk menikah dan menolak ikatan agama.

Salah satu karya yang membawa citra baru perempuan Prancis ini adalah Gigi, sebuah novela karya Colette. Colette menceritakan seorang karakter perempuan Paris yang sedang bergairah untuk meikmati hidup.

Karakter ini memiliki cita-cita untuk hidup mandiri secara finansial, suka mencari gara-gara ketika dalam hubungan, dan mempesona bayak laki-laki. Kesuksesan novela Gigi dan karya-karya sejenisnya, membawa citra Prancis sebagai bangsa yang sensual semakin kuat. Pasalnya, dunia kebudayaan Prancis juga terus memakmurkan skandal-skandal yang menghebohkan dunia.

Dunia Kebudayaan Prancis yang Liar

Bim & Vy – Lovers from Vietnam, Married in France

Kehidupan romansa di Prancis yang ugal-ugalan tidak hanya terjadi di dalam novel. Selepas perang dunia kedua, Prancis dilanda optimisme yang besar akan hadirnya tatanan dunia yang lebih baik. Nuansa optimisme ini adalah kesempatan emas bagi para budayawan, dari pegiat seni, sastrawan, hingga filsuf.

Para budayawan ini mendapat perhatian besar dari media yang kala itu bahkan menempatkan mereka selayaknya selebritis. Salah satu kisah skandal yang romansa yang menarik perhatian publik tentu saja duet maut Jean Paul Sartre dan Simone de Beauvoir.

Keduanya masuk dalam kategori filsuf paling berpengaruh sepanjang masa. Karya keduanya juga selalu menjadi pembahasan bahkan hingga kini. Hidup mereka bahkan dipenuhi sorotan dari berbagai kalangan. Hingga akhirnya banyak pula orang yang mengidolakan gaya berhubungan yang mereka jalani.

Sartre dan Beauvoir bertemu ketika sama-sama mengenyam pendidikan tinggi di bidang filsafat pada 1929. Keduanya merupakan salah satu mahasiswa terbaik di kampus. Beauvoir sendiri bisa dibilang sebagai primadona, karena cerdas, cantik, dan memiliki kepribadian yang menonjol.

Sedangkan Sartre secara fisik tidak dapat dikatakan tampan, namun kekurangannya ini ditutupi oleh kecerdasan dan keunikan karakternya. Di sini Sartre mengidamkan dan mulai berfantasi untuk menaklukan hati sang primadona.

Keinginan Sartre pun berbalas dengan syarat dan kondisi. Beauvoir baru mau menerima cinta Sartre apabila hubungannya dilakukan secara terbuka. Artinya, keduanya boleh menjalani hubungan seks dengan siapapun juga meskipun secara eksklusif hanya mencintai satu sama lain.

Menurut Beauvoir, dengan syarat ini mereka bisa menjalani cinta yang esensial. Pasalnya, cinta sejati yang diyakini oleh Beauvoir adalah ketika cinta tetap bertahan meskipun kedua belah pihak bisa menikmati hidup sepenuhnya.

Gaya hubungan seperti ini pada masa itu dapat dibilang kontroversial. Keduanya harus berani untuk menjalani sesuatu yang berada di luar norma, dan tentu saja berisiko mendapat stigma dari masyarakat. Ketika menjalani hubungan tersebut, keduanya juga terlibat dalam skandal-skandal kontroversial.

Beauvoir misalnya, aktif melakukan hubungan seksual dengan dengan budayawan lain, perempuan maupun laki-laki. Sedangkan Sartre, digemari oleh banyak muridnya dan seringkali memanfaatkan ini sebagai kesempatan untuk memuaskan nafsunya. Dalam satu kesempatan, Beauvoir bahkan juga bercinta dengan sahabat Sartre.

Sartre sendiri terkadang memiliki fantasi seksual yang aneh. Ia memiliki kegemaran meniduri perawan. Seringkali keinginannya ini terbayar dengan pengalaman yang mengecewakan. Skandal paling aneh dari hubungan asmara mereka adalah ketika Sartre meniduri murid dan adik Beauvoir. Kejadian ini benar-benar membuat Beauvoir cemburu dan langsung membalasnya dengan meniduri salah satu murid Sartre.

Skandal aneh ini terus berlangsung hingga ketika Perang Dunia Kedua meletus mereka harus berpisah untuk sementara. Dalam perpisahan singkat tersebut, Sartre melakukan petualangan seksnya sendiri tanpa sepengetahuan Beauvoir. Begitu pula Beauvoir yang melakukan petualangan seksualnya sendiri, yang bahkan melibatkan pelukis termahsyur Pablo Picasso dan penyanyi Juliette Greco.

Ketika mereka dipertemukan kembali, keduanya sedang berada dalam skandal yang lebih kompleks. Masing-masing setidaknya memiliki lima kekasih sekaligus, entah perempuan ataupun laki-laki. Hal yang mereka abaikan dalam petualangan kecil itu adalah dampak negatif yang mereka bawa pada para kekasihnya.

Beberapa mantan kekasih keduanya seringkali menyesal karena justru hubungan tersebut membawa dampak buruk pada banyak orang. Gaya hubungan yang tidak biasa menyebabkan gelombang kecemburuan yang masif bagi banyak pihak. Beberapa mantan kekasih bahkan sampai jatuh depresi dan ada yang mencoba bunuh diri. Salah satu dari mantan kekasih itu juga ada yang menuntut mereka atas tuduhan pencabulan pada anak di bawah umur. Sayangnya tuduhan ini tidak berlanjut ke pengadilan, meskipun Beauvoir dipecat dari pekerjaannya sebagai guru.

Sartre pun kemudian jatuh depresi karena tidak kunjung berhasil di bidang filsafat. Buku “Being and Nothingness” yang baru Ia terbitkan belum menunjukkan kesuksesan penjualan. Sartre lalu mengalihkan kesedihannya menjadi gelombang petualangan seks lain. Di gelombang ini,

Ia ditemani filsuf selebriti lainnya, Albert Camus. Camus sebenarnya sudah banyak terlibat dalam sejumlah petualangan seks Beauvoir dan Sartre. Namun, Camus selalu merasa enggan untuk bersenggama langsung dengan Beauvoir. Menurutnya, Beauvoir terlalu cerewet dan tidak menggairahkan.

Sartre dan Beauvoir baru bertemu dan melanjutkan hubungan mereka beberapa saat setelah petualangan itu usai. Kali ini, mereka hanya berhubungan secara romantis dan tidak melakukan seks sama sekali.

Kehidupan budaya Prancis yang bergairah juga tidak hanya dialami oleh Sartre, Beauvoir, Camus, dan Picasso. Beberapa nama sastrawan, seniman, dan filsuf lain juga terlibat dalam petualangan seks yang liar.

Sebut saja petualangan seks filsuf, Michel Foucault. Foucault tidak hanya dikenal sebagai seorang homoseksual, Ia juga terkenal aktif melakukan hubungan seks sadomasokis. Kegemarannya terhadap fantasi sadomasokis juga membawa inspirasi besar bagi karyanya yang seringkali menggali lebih dalam seksualitas manusia.

Kehidupan seks yang liar di kebudayaan Prancis juga terjadi hingga masa kini. Dalam buku La Seduction, kehidupan seks juga merupakan hal yang penting dilihat dalam memahami politik Prancis terkini. Publik Prancis sangat peduli dengan kehidupan seks para pemangku kebijakan. Meskipun banyak skandal yang ditutupi, aktifitas seksual para pemangku kebijakan tetap menjadi wacana yang digunakan oleh warga Prancis untuk menentukan pemimpinnya. Hal ini bisa dibuktikan dari popularitas mantan menteri keuangan Prancis, Strauss-Kahn.

Politisi sosialis itu pernah mendapat tuduhan pemerkosaan pada 2007. Tuduhan ini disangkal oleh Strauss-Kahn dan pendukungnya dengan alasan bahwa Ia merupakan salah satu petualang seks. Mereka berpendapat bahwa petualangan seks merupakan karakteristik bangsa Prancis yang ada bahkan sebelum Revolusi.

Pembelaan tersebut akhirnya terbukti sebagai sebatas alasan kosong. Karena pada 2011, Strauss-Kahn kembali dituduh melakukan upaya pemerkosaan pada seorang pelayan di New York. Meskipun begitu, pembelaan tersebut dapat menjelaskan suatu hal. Anggapan bahwa orang Prancis suka menggoda mungkin ada sedikit benarnya.