3 Pengalaman Wanita Penyintas Serangan Jantung

Serangan jantung memang sebuah penyakit yang sungguh mematikan. Beberapa pengidapnya mungkin bakal kehilangan nyawa akibat penyakit ini.

Akan tetapi, beberapa di antara mereka justru bisa lepas dan sembuh dari serangan jantung. Situasi ini seharunya bisa membangkitkan semangat para pengidap penyakit jantung.

Kali ini, penulis Bonanza88 akan mencoba untuk merangkum 3 pengalaman wanita penyintas serangan jantung, yang bisa menginspirasi banyak orang.

Paula, 64 Tahun

Dua minggu sebelum serangan, Paula mengalami mual-mual. Dia pikir itu karena virus. Sehari sebelum serangan, wanita berusia 64 tahun itu mengalami sesak napas.

“Saya hampir tidak bisa naik ke atas kereta. Pada saat sampai di pintu kereta, saya merasa pusing dan lemas. Atas saran teman, saya pergi ke ruang gawat darurat. Dokter mengatakan, jantung saya berdebar sangat cepat, sehingga harus menginap di rumah sakit.”

“Malam itu, jantung saya berhenti berdetak. Seorang perawat menemukan saya di lantai. Mereka butuh 15 menit untuk menghidupkan saya kembali,” tutup Paula.

Jen, 42 Tahun

Jen merasakan sakit di atas dan pertengahan punggung, tepat di antara tulang belikat. Juga di kedua lengan. Pada hari itu, ia merasa lelah dan kurang mampu menyelesaikan aktivitas.

“Saya adalah pelatih maraton, biasa berjalan kaki sepanjang 27 kilometer. Di tengah rute, saya terpaksa duduk dulu karena lelah sekali.”

“Saya bisa menyelesaikan rute yang biasa, hanya saja tiga hari kemudian mengalami serangan dan harus dirawat di rumah sakit,” ucapnya.

Seperti ada pisau ditusukkan dan diputar di antara tulang bahu saya. Saya juga merasa seperti sedang mengalami sakit maag yang terburuk, yang pernah saya alami seumur hidup.

Melisa, 37 Tahun

Pada saat terjadi serangan, Melisa tidak menyadari bahwa itu serangan jantung. Ia hanya tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres dan harus pergi ke rumah sakit.

“Saya juga berkeringat dingin, seperti mau flu, dan merasa nyeri di dada yang timbul tenggelam. Saya ingin orang tahu, nyeri dada tidak selau membuat kita lemas, dan belum tentu serangan jantung.”

“Hari itu, saya juga sesak napas, hingga membutuhkan bantuan dari suami untuk naik ke mobil. Tapi, saat kami tiba di rumah sakit, saya mampu berjalan sendiri sampai ruang gawat darurat. Dada saya masih nyeri dan saya masih lemas. Dokter bilang, gejala yang saya alami adalah gejala serangan jantung yang umum bagi wanita,” lanjutnya.